Khas Bersarung Batik, Gus Nabil Tegas Pencak Silat Harus Mengakar pada Tradisi

Sabtu, 05 September 2026 20:54 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1002090872.jpg
Gus Nabil bersama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dalam pelantikan PB IPSI di TMII Jakarta (Soloaja)

JAKARTA (Soloaja.co) – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI), Muchamad Nabil Haroen, menegaskan bahwa kemajuan pencak silat harus tetap berpijak pada tradisi dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

Pesan tersebut disampaikan tokoh yang akrab disapa Gus Nabil seusai pelantikan dan pengukuhan Pengurus Besar IPSI Masa Bakti 2026–2030 di Padepokan Pencak Silat Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (5/9/2026).

Dalam acara tersebut, Gus Nabil tampil dengan gaya khasnya mengenakan blangkon dan sarung batik. Penampilannya mencerminkan kedekatan dengan kebudayaan Nusantara yang menjadi akar pencak silat Indonesia.

“Kita mewarisi pencak silat dari para leluhur bukan hanya sebagai teknik bela diri, tetapi sebagai jalan pembentukan manusia,” kata Gus Nabil.

Menurutnya, pencak silat mengajarkan keberanian tanpa kesombongan, kekuatan yang dikendalikan oleh akhlak, serta persaudaraan yang melampaui perbedaan perguruan dan daerah.

Nilai-nilai itu harus tetap menjadi landasan di tengah upaya meningkatkan prestasi, memanfaatkan teknologi, dan membawa pencak silat memasuki ekosistem olahraga modern.

Kekuatan Perguruan Berasal dari Daerah

Gus Nabil mengatakan keberagaman perguruan merupakan kekayaan pencak silat Indonesia. Setiap perguruan tumbuh dengan sejarah, tradisi, dan karakter masing-masing.

Namun, seluruh perbedaan tersebut harus dipersatukan ketika membawa kepentingan bangsa dan Merah Putih. 

“Kita boleh berasal dari perguruan yang berbeda, memakai warna yang berbeda, dan tumbuh dari tradisi yang berbeda. Tetapi ketika Merah Putih dikibarkan, kita adalah satu: pencak silat Indonesia,” ujarnya.

Menurut Gus Nabil, konsolidasi dari pusat hingga daerah menjadi salah satu kunci keberhasilan PB IPSI periode 2026–2030.

Pembinaan yang kuat di kabupaten dan kota akan memperluas kesempatan lahirnya atlet, pelatih, serta wasit-juri berkualitas yang kelak memperkuat pencak silat Indonesia di tingkat nasional dan internasional.

Tiga Juta Kader Siap Bergotong Royong

Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa, Gus Nabil menyatakan siap menggerakkan potensi sekitar tiga juta kader di seluruh Indonesia untuk membantu menyukseskan program PB IPSI.

Potensi tersebut dapat diarahkan untuk mendukung pembinaan atlet, peningkatan kompetensi pelatih, pendidikan karakter generasi muda, penguatan organisasi, dan pengembangan pencak silat di berbagai daerah.

“Pagar Nusa dengan sekitar tiga juta kader siap mengambil bagian dan bergotong royong menyukseskan agenda PB IPSI,” katanya.

Gus Nabil menegaskan keterlibatan Pagar Nusa tidak ditujukan untuk membawa kepentingan satu perguruan. Seluruh potensi organisasi akan ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar kolektif keluarga besar pencak silat.

“Ini bukan agenda satu perguruan, melainkan ikhtiar bersama seluruh keluarga besar pencak silat untuk membawa Indonesia semakin berprestasi dan disegani dunia,” ujarnya.

Pagar Nusa, lanjut Gus Nabil, akan bekerja bersama seluruh perguruan yang bernaung di bawah IPSI dalam semangat persaudaraan dan gotong royong.

Satu Visi di Bawah Ketua Umum PB IPSI

Gus Nabil memastikan dirinya akan bekerja dalam satu arah kepemimpinan di bawah Ketua Umum PB IPSI Sugiono.

Setiap pengurus, menurut dia, bertanggung jawab menerjemahkan kebijakan organisasi menjadi program nyata sesuai bidang masing-masing.

“Seluruh pengurus berada dalam satu barisan untuk menerjemahkan dan menyukseskan visi Ketua Umum PB IPSI,” kata Gus Nabil.

“Amanah yang diberikan kepada masing-masing pengurus harus menjadi kekuatan kolektif untuk membawa pencak silat Indonesia semakin maju,” lanjutnya.

Dia menilai periode 2026–2030 harus menjadi masa konsolidasi sekaligus akselerasi. Konsolidasi diperlukan untuk menyatukan seluruh kekuatan pencak silat, sedangkan akselerasi dibutuhkan guna mempercepat peningkatan prestasi dan profesionalisme.

Modernisasi Pembinaan

Dalam menyukseskan agenda PB IPSI, Gus Nabil mendukung pembinaan atlet berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia juga memberi perhatian pada standardisasi dan sertifikasi pelatih serta wasit-juri, pembangunan sistem pemeringkatan atlet, peningkatan kualitas kompetisi, dan pengembangan industri pencak silat.

“Kita tidak boleh puas dengan apa yang telah dicapai. Pembinaan atlet harus semakin berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Kompetisi harus semakin berkualitas,” ujarnya.

Menurut Gus Nabil, sistem pemeringkatan dibutuhkan agar pembinaan, seleksi, dan evaluasi atlet berlangsung secara objektif serta terukur.

Sementara itu, pengembangan industri pencak silat diperlukan untuk menciptakan kompetisi berkelanjutan dan membuka prospek ekonomi yang lebih baik bagi atlet, pelatih, perguruan, serta pelaku usaha di daerah.

Bersama Menuju Olimpiade

Ketua Umum PB IPSI Sugiono menargetkan pencak silat dapat menembus panggung Olimpiade sekaligus menjadi bagian dari pendidikan karakter generasi muda melalui pendidikan formal.

“Pencak silat bukan sekadar warisan budaya, melainkan identitas dan instrumen diplomasi bangsa,” kata Sugiono.

Gus Nabil menyatakan siap mendukung target tersebut bersama seluruh jajaran pengurus, perguruan, dan keluarga besar pencak silat.

“Ini bukan pekerjaan satu ketua umum, satu kepengurusan, atau satu periode. Ini adalah kerja panjang seluruh insan pencak silat Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menegaskan jabatan sebagai Wakil Ketua Umum PB IPSI merupakan sarana untuk bekerja dan mengabdi.

“Jabatan hanyalah alat untuk bekerja. Yang jauh lebih penting adalah apa yang dapat kita wariskan setelah masa pengabdian ini selesai,” kata Gus Nabil.

Pelantikan dan pengukuhan Pengurus Besar IPSI Masa Bakti 2026–2030 dilakukan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman.

Acara tersebut turut dihadiri Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, serta perwakilan Komite Olimpiade Indonesia.

Hadir pula pimpinan dan tokoh senior perguruan historis IPSI, para ketua umum perguruan besar pencak silat, serta pengurus provinsi IPSI dari 38 provinsi.