Inovasi di Kelas Bukan Cuma Soal Aplikasi dan AI, Relasi Adalah Jantung Pembelajaran

Minggu, 30 November 2025 17:10 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001089236.jpg
Alief Noor Farida, Mahasiswa Doktoral Prodi Ilmu Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Semarang (Soloaja)

SEMARANG (Soloaja.co) - Dalam beberapa tahun terakhir, kata “inovasi” di dunia pendidikan nyaris selalu hadir bersama dua kata lain: aplikasi dan AI. Guru dan dosen didorong menggunakan platform belajar, aplikasi kuis, learning management system, hingga kecerdasan buatan. 

Presentasi di seminar penuh dengan tangkapan layar antarmuka aplikasi, daftar fitur, dan klaim “kelas jadi lebih interaktif”. Seolah-olah, tanpa gawai dan teknologi mutakhir, sebuah kelas tak pantas disebut inovatif.

Namun, jika kita jujur bertanya: apakah semua kelas yang penuh perangkat itu otomatis menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas? Apakah mahasiswa mahasiswa benar-benar lebih kritis, lebih percaya diri berbahasa, lebih peka membaca teks, hanya karena tugasnya dikumpulkan lewat platform digital atau dibantu AI? 

Di sinilah ada masalah yang perlu kita bicarakan: inovasi dalam pendidikan, khususnya Pendidikan Bahasa Inggris, terlalu sering direduksi menjadi soal teknologi, padahal beberapa perubahan paling mendalam justru bersifat relasional dan pedagogis.

Alief Noor Farida, Mahasiswa Doktoral Prodi Ilmu Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Semarang berpendapat bahwa di era AI dan digital, kita cenderung mengglorifikasi teknologi seolah-olah inovasi selalu berarti aplikasi dan platform baru.

“Padahal, dalam program Pendidikan Bahasa Inggris, banyak inovasi paling kuat justru lahir dari cara kita berinteraksi dengan mahasiswa, cara kita memberi umpan balik, dan cara kita membangun komunitas belajar. Teknologi seharusnya menjadi penopang relasi ini, bukan pengganti. Ketika relasi diabaikan, aplikasi secanggih apa pun hanya menjadi ruang unggah dan unduh berkas.” Ungkap Alief. 

Bagaimana logika “inovasi = digital” bekerja dalam keseharian. Di banyak kampus, pengajuan program inovasi pembelajaran sering dinilai dari seberapa banyak aplikasi yang digunakan. Proposal yang menyebut satu atau dua platform terasa “biasa saja”; sementara yang memamerkan lima atau enam aplikasi tampak lebih menarik dan “kekinian”. 

Guru atau dosen yang tidak menambahkan kata “digital” atau “AI” di judul kegiatan sering merasa programnya kurang bergengsi. Padahal, indikator yang jauh lebih penting jarang ditanyakan: seberapa intens dialog bermakna terjadi di kelas? Seberapa banyak mahasiswa benar-benar membaca, menulis, dan berdiskusi secara kritis?
Akibatnya, tidak sedikit kelas yang tampak modern di permukaan, tetapi miskin interaksi.

Mahasiswa sibuk mengisi kuis daring dan mengumpulkan tugas di LMS, tetapi jarang mendapatkan ruang aman untuk bertanya, berbeda pendapat, atau menegosiasikan makna teks yang mereka baca. Guru dan dosen berhasil memenuhi kewajiban administratif—mengunggah materi, membuat forum, memberikan nilai—namun hubungan pedagogis yang hangat dan menantang tidak benar-benar terbangun. Kelas menjadi rapi di layar, tetapi kering di hati.

“Padahal, kalau kita mundur sejenak dan menengok ke praktik di lapangan, banyak inovasi yang dampaknya besar justru tidak bergantung pada perangkat canggih. Salah satunya adalah perubahan budaya umpan balik. Di kelas menulis Bahasa Inggris, misalnya, inovasi sederhana namun kuat bisa berupa pergeseran dari umpan balik sepihak berbasis skor menuju umpan balik dialogis.” Imbuhnya. 

Dosen tidak hanya menuliskan komentar singkat, tetapi mengajak mahasiswa berdiskusi tentang revisi, memberi ruang bagi mahasiswa menjelaskan pilihannya, dan menulis feedforward—saran konkret untuk tugas berikutnya. Tanpa aplikasi tambahan pun, cara baru ini mengubah pengalaman belajar menulis: mahasiswa merasa dihargai sebagai penulis, bukan sekadar penerima nilai.

Contoh lain adalah pembentukan kelompok menulis sejawat (peer writing group). Dalam format ini, mahasiswa membawa draf esai, saling membaca, dan memberikan komentar. Mereka belajar berbicara tentang tulisan, bukan hanya menunggu “vonis” dari dosen.

Inovasinya bukan pada platform, denggan menggunakan kertas, fotokopi, atau Google Docs sederhana, melainkan pada keberanian membuka tulisan kepada teman dan membangun kepercayaan untuk saling mengkritik dengan cara yang konstruktif. Di banyak kelas Pendidikan Bahasa Inggris, praktik seperti ini terbukti membuat mahasiswa lebih reflektif dan lebih bertanggung jawab atas tulisannya sendiri.

“Kita juga bisa melihat inovasi non-digital dalam lingkar baca. Kelas membaca atau sastra yang biasanya didominasi ceramah dosen dapat diubah menjadi forum diskusi, di mana mahasiswa bergiliran memimpin, merumuskan pertanyaan kunci, dan mengaitkan teks dengan konteks sosial yang mereka kenal.” Imbuhnya. 

Di sini, “inovasi” adalah redistribusi peran: mahasiswa bukan lagi pendengar pasif, melainkan pembaca aktif yang suaranya penting. Teknologi boleh hadir, misalnya untuk berbagi artikel atau video, tetapi inti aktivitas tetap pada percakapan tatap muka, keheningan saat merenung, dan debat yang sehat.

Di luar ruang kelas, kolaborasi antara sekolah dan universitas juga merupakan wujud inovasi yang sering terlupakan. Mahasiswa calon guru Bahasa Inggris yang terlibat dalam merancang tugas bersama guru sekolah, mengobservasi kelas, lalu melakukan refleksi bersama setelah praktik mengajar, memperoleh pengalaman belajar yang jauh lebih kaya dibanding sekadar menjalani PPL sebagai formalitas.

Hubungan yang setara antara dosen, guru, dan mahasiswa ini membangun jembatan antara teori dan praktik. Sekali lagi, tanpa perlu aplikasi yang rumit, pola kemitraan seperti ini sudah merupakan inovasi penting dalam manajemen program Pendidikan Bahasa Inggris.

Apakah semua ini berarti teknologi tidak berguna? Tentu tidak. Teknologi adalah alat yang sangat membantu, terutama dalam mengorganisasi materi, memfasilitasi kolaborasi, dan mengarsipkan proses belajar. 

Google Docs dapat mempercepat proses peer feedback, platform diskusi daring memungkinkan mahasiswa yang pemalu untuk bersuara, dan AI dapat dimanfaatkan sebagai pemantik ide atau alat latihan bahasa. Namun, pertanyaan yang seharusnya selalu kita ajukan adalah: “Relasi belajar seperti apa yang ingin kita bangun, dan bagaimana teknologi bisa mendukungnya?” Bukan sebaliknya: “Aplikasi apa yang sedang tren, dan bagaimana kita memaksakan penggunaannya di kelas?”

Di sinilah pentingnya lembaga pendidikan mendefinisikan ulang kata “inovasi”. Laporan dan penghargaan inovasi pembelajaran tidak semestinya hanya berisi daftar perangkat yang digunakan, tetapi juga narasi tentang bagaimana hubungan di kelas berubah: bagaimana mahasiswa menjadi lebih berani bertanya, bagaimana kualitas umpan balik meningkat, bagaimana guru dan dosen membuka ruang bagi perbedaan pendapat.

Praktik-praktik relasional seperti writing circle, mentoring antarmahasiswa, klub baca, dan kolaborasi sekolah–kampus layak diakui sebagai inovasi, meskipun tidak “instagrammable” dan tidak penuh tangkapan layar antarmuka aplikasi.

Untuk mewujudkan perubahan perspektif ini, pimpinan program studi dan institusi memegang peran penting. Mereka dapat mulai dengan memberi ruang dalam skema hibah atau lomba inovasi pembelajaran bagi proyek-proyek yang fokus pada relasi dan pedagogi, bukan hanya teknologi. 

Di sisi lain, guru dan dosen juga perlu percaya diri menyebut dan mendokumentasikan praktik relasionalnya sebagai bentuk inovasi. Tidak semua hal harus dibungkus dengan istilah asing atau nama aplikasi agar dihargai; kadang, komitmen konsisten untuk mendengarkan mahasiswa dan memperbaiki cara mengajar adalah langkah inovatif yang paling sulit dan paling berharga.

Pada akhirnya, di era ketika hampir semua hal bisa dibuat otomatis oleh mesin, mungkin justru kemampuan kita membangun hubunganlah yang menjadi bentuk inovasi paling radikal di ruang-ruang kelas Bahasa Inggris. 

Teknologi akan terus berkembang dan berganti, tetapi pengalaman seorang mahasiswa yang merasa didengar, ditantang, dan didukung oleh gurunya akan tinggal jauh lebih lama dalam ingatan. Dan bukankah itu, pada hakikatnya, tujuan tertinggi dari pendidikan? (/Opini)