Medali emas
Jumat, 03 Juli 2026 17:25 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) — Sebanyak 72 peserta resmi mendapatkan sertifikasi untuk menjadi tenaga klasifikasi (klasifier) olahraga disabilitas fisik di Indonesia. Penambahan tenaga ahli baru ini diharapkan mampu mendongkrak pemerataan pengembangan prestasi olahraga disabilitas di berbagai daerah di tanah air.
Para peserta tersebut dinyatakan lulus setelah mengikuti rangkaian pelatihan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI) bersama National Paralympic Committee Indonesia (NPC Indonesia). Pelatihan ini dibagi menjadi dua wilayah untuk mengakomodasi total 77 peserta dari 28 provinsi.
Untuk wilayah Indonesia bagian barat, pelatihan digelar di Kabupaten Karanganyar pada 19-22 Mei 2026 lalu, di mana seluruh peserta yang berjumlah 45 orang dinyatakan lulus. Sementara untuk wilayah Indonesia bagian timur dilaksanakan di Kota Makassar pada 29 Juni hingga 2 Juli 2026, dengan meluluskan 27 dari 32 peserta.
Plt Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora, Leny Kurnia, menyampaikan bahwa kehadiran 72 klasifier tersertifikasi ini menjadi angin segar bagi dunia olahraga disabilitas, terutama dalam mewujudkan pemerataan kompetensi di setiap provinsi.
"Output dari kegiatan ini, kami ingin ada tenaga klasifier baru yang berkompeten untuk melakukan klasifikasi di daerah-daerah, khususnya daerah yang belum ada klasifier tersertifikasi," ujar Leny Kurnia, Kamis (2/7/2026).
Pentingnya proses klasifikasi ini juga ditegaskan oleh Chief Classifier NPC Indonesia, Dr. dr. Retno Setianing, Sp.KFR (K). Menurutnya, klasifikasi merupakan fondasi utama untuk menciptakan pertandingan yang setara, sehingga seorang atlet wajib melalui tahapan ini sebelum bisa berlaga.
Keberadaan tenaga ahli di daerah akan mempermudah perekrutan dan penempatan awal calon atlet agar sesuai dengan potensi cabang olahraga serta nomor pertandingan mereka. Langkah strategis ini sangat krusial mengingat Indonesia tengah bersiap menjaring bibit-bibit atlet potensial untuk menghadapi ajang Paralympic 2028.
"Dengan adanya pelatihan di Makassar ini, diharapkan akan ada klasifier baru yang bisa membantu untuk memberikan klasifikasi di daerahnya masing-masing, sehingga calon atlet yang direkrut sport class-nya tidak meleset terlalu jauh saat dibina," jelas Retno.
Sisi positif program ini turut dirasakan langsung oleh peserta, salah satunya dr. Made Dwi Puja Setiawan, Sp. K.F.R., M.Ked.Klin. AIFO-K. Utusan dari Provinsi Bali ini mengaku mendapatkan banyak keilmuan baru mengenai pengelompokkan atlet penyandang disabilitas. Ia berharap pelatihan serupa dapat terus berlanjut secara berkesinambungan dan lebih spesifik ke cabang olahraga tertentu ke depannya.
Bagikan