Univet Bantara Sukoharjo
Selasa, 21 April 2026 15:28 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA — Ilusi pilihan adalah suatu bias kognitif yang membuat seseorang merasa seolah-olah memiliki kendali lebih besar atas hidupnya daripada kenyataan sebenarnya.
Perasaan bisa memilih ini bisa membuat orang-orang merasa bahagia dan mandiri, tapi di sisi lain juga bisa menciptakan harapan yang keliru dan akhirnya memicu seseorang menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya di luar kendalinya.
Konsep ilusi pilihan ini bahkan sering digunakan dalam iklan dan pemasaran untuk membuat konsumen merasa bahwa mereka sebetulnya bebas dan berkuasa dalam mengambil keputusan pembelian.
BACA JUGA: Kiprah ENHYPEN di Dunia K-Pop, Terbentuk dari I-LAND
Padahal, dalam banyak kasus adanya pilihan ini hanyalah rasa kontrol semu yang justru dapat mengarah pada keputusan yang kurang optimal.
Seperti yang dilansir dari Verywell Mind, konsep ilusi pilihan sering dimanfaatkan dalam pemasaran dan iklan agar kita sebagai konsumen seolah-olah merasa bebas saat memilih produk. Selain itu, ilusi pilihan juga dimanfaatkan saat kampanye politik untuk meningkatkan keyakinan pemilih terhadap pilihannya.
Dilaporkan Verywell Mind, hal itu bisa terlihat dalam dokumenter The Great Hack, yang membahas soal Cambridge Analytica yang memanfaatkan data untuk memengaruhi opini publik saat pemilu AS 2016.
Contoh lain dari ilusi pilihan ini adalah ‘free trial’ di beberapa platform yang menggunakan subscription, yang otomatis akan berubah menjadi langganan ketika Anda lupa untuk membatalkannya yang sering membuat pengguna tanpa sadar tetap membayar.
BACA JUGA: 5 Dessert ala Korea Selatan yang Pernah Viral dan Tren di Indonesia
Ilusi pilihan bisa menimbulkan berbagai konsekuensi, seperti keputusan yang kurang tepat, merasa stres dan bingung, membeli atau berbelanja secara impulsif, hingga melakukan pengeluaran yang tidak perlu.
Bahkan, teknik pemasaran seperti diskon waktu terbatas atau hitung mundur juga sering menciptakan rasa urgensi yang akhirnya mendorong orang mengambil keputusan secara cepat tanpa pertimbangan yang matang.
Ilusi pilihan juga bisa mendorong konsumsi dan mempertahankan struktur yang ada. Kita cenderung merasa bebas memilih, padahal pilihan yang kita miliki sebetulnya telah diatur dan dibatasi oleh sistem.
Hal ini dapat menciptakan kesan kebebasan, tetapi pada saat yang sama bisa mengurangi kecenderungan kita untuk mempertanyakan sistem itu sendiri.
BACA JUGA: Penghasilan Besar tapi Bokek? Ini Jebakan yang Sering Terjadi
Jika sering merasa kewalahan dengan banyaknya pilihan, beberapa langkah berikut bisa membantu Anda untuk mengatasinya.
Itu tadi penjelasan soal ilusi pilihan yang sering menjebak kita berbelanja lebih banyak, merasa memiliki kebebasan, dan turut berpengaruh saat pemilihan umum.
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh pada 21 Apr 2026
Bagikan