HUT ke-17, APERNAS Soloraya Berbagi Berkat Perkuat Inovasi

Senin, 23 Februari 2026 18:16 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001394301.jpg
DPD APERNAS Soloraya dan Salatiga tasyakuran HUT ke-17 APERNAS bersama anak yatim (Soloaja)

KARANGANYAR (Soloaja.co) – Asosiasi Pengembang Rumah Sederhana Sehat Nasional (APERNAS) merayakan hari jadi ke-17 dengan penuh kesederhanaan dan kepedulian. Bertempat di Genio Syariah Hotel, Colomadu, Senin (23/2), DPD APERNAS Solo Raya dan Salatiga menggelar buka puasa bersama serta pemberian santunan bagi puluhan anak yatim.

Ketua DPD APERNAS Solo Raya dan Salatiga, Budiyono, mengungkapkan bahwa kegiatan berbagi ini telah menjadi tradisi organisasi selama tiga tahun terakhir. Sebanyak 60 anak yatim dari Yayasan Aitam Kartasura hadir untuk menerima bingkisan dan santunan uang tunai.

"Kegiatan ini rutin kami lakukan sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, sekaligus mencari keberkahan bagi organisasi di bulan suci ini," ujar Budiyono.

Ekonomi 2026: Kuota Rumah Melimpah, Pembeli Berkurang

Meski dibalut suasana syukur, Budiyono yang juga akademisi dan praktisi ekonomi ini memberikan catatan kritis terkait kondisi sektor properti di tahun 2026. Ia menyebut tema HUT kali ini adalah memberikan kekuatan kepada anggota, mengingat kondisi ekonomi makro yang dinilai masih sangat berat.

Budiyono menyoroti fenomena di mana pemerintah telah membuka kran kuota FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) tanpa batas, namun daya beli masyarakat justru merosot tajam.

"Kran dibuka selebar-lebarnya, tapi pembelinya tidak ada karena kondisi makro ekonomi tidak bagus. Terjadi perlambatan ekonomi, penurunan daya beli, bahkan deflasi," tegasnya.

Soroti Beban APBN dan Ruang Fiskal Mikro

Analisis Budiyono merujuk pada defisit APBN 2026 yang diproyeksikan mencapai Rp850 triliun. Hal ini dipicu oleh beban utang jatuh tempo sebesar Rp840 triliun, program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp355 triliun, hingga belanja pegawai yang mencapai Rp550 triliun.

Menurutnya, pemerintah terlalu fokus pada stabilitas moneter dan fiskal makro, namun mengabaikan sektor mikro. Beban Belanja: Program MBG dan pengeluaran lain menambah beban tanpa peningkatan pendapatan APBN yang signifikan.

Saran Kebijakan: Pemerintah diminta meningkatkan deviden BUMN dan pajak sebelum melebarkan belanja, guna menciptakan ruang fiskal bagi masyarakat bawah. Budiyono mendesak adanya stimulus atau "imun" fiskal untuk mendorong daya beli, termasuk suku bunga yang rendah.

Pesan untuk Pengembang: Efisiensi dan Hindari Spekulasi

Menghadapi tantangan tahun 2026, Budiyono memberikan wejangan keras kepada 65 anggota aktif APERNAS Solo Raya agar tetap bertahan:

 * Jangan Spekulasi: Hindari membuka lahan baru atau berinvestasi melalui utang bank dengan bunga tinggi.

 * Habiskan Stok: Optimalkan penjualan unit atau "sisa dagangan" yang sudah tersedia.

 * Efisiensi Total: Lakukan penghematan biaya operasional hingga efisiensi pegawai.

 * Inovasi: Kreatif dalam memenangkan persaingan karena pangsa pasar yang kian menyempit.

"Kue (pasar) sedikit, tapi diperebutkan banyak organisasi pengembang. Kita harus benar-benar efisien dan inovatif untuk bisa bertahan," pungkasnya.