Bubur Samin Tradisi Ramadhan Masjid Darussalam Jayengan Solo

Kusumawati - Minggu, 22 Februari 2026 20:16 WIB
Tradisi ramadhan Bubur Samin Masjid Darussalam Jayengan Solo (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Aroma rempah khas kayu manis dan cengkih menyeruak di halaman Masjid Darussalam, Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo, Kamis (19/2).

Ratusan warga dari berbagai penjuru Solo Raya tampak berjajar rapi, menggenggam wadah makanan di tangan masing-masing. Mereka rela mengantre demi mendapatkan satu porsi Bubur Samin, kuliner legendaris khas Banjar yang hanya muncul saat bulan Ramadan.

Tahun ini, suasana pembagian takjil terasa lebih istimewa. Pasalnya, tradisi Bubur Samin telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia pada tahun 2025 lalu. Pengakuan negara ini semakin meneguhkan posisi Bubur Samin bukan sekadar menu berbuka, melainkan identitas budaya yang kuat di Kota Bengawan.

Hadir dalam pembagian perdana tersebut, Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Solo, Astrid Widayani, didampingi mantan Wali Kota Solo, Teguh Prakosa, serta Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Maretha. Dalam sambutannya, Astrid mengapresiasi konsistensi Takmir Masjid Darussalam dalam merawat tradisi ini.

“Ini bukti nyata akulturasi budaya Banjar yang menyatu harmonis dengan masyarakat Solo. Pengakuan sebagai WBTb adalah momentum bagi Pemkot untuk memperkuat pelestarian tradisi berbasis komunitas,” ujar Astrid di sela-sela kegiatan.

Simbol Keberkahan dan Kerinduan

Bagi warga seperti Marsiyati (70), antre Bubur Samin adalah ritual tahunan yang tak boleh terlewatkan. Warga Gajahan ini mengaku sudah menjadi "pelanggan tetap" sejak anak-anaknya masih kecil hingga kini telah berkeluarga.

"Rasanya enak sekali, bikin kangen. Saya bawa dua wadah untuk makan bareng keluarga. Selain rasanya, kita juga mencari keberkahannya," tutur Marsiyati yang sudah bersiap di lokasi bahkan sebelum azan Asar berkumandang.

Sejarah Panjang Sejak 1965

Takmir Masjid Darussalam, Noor Cholish, menceritakan bahwa tradisi ini berakar dari kebiasaan paguyuban perantau asal Kalimantan Selatan (Suku Banjar) sejak tahun 1930-an. Namun, pembagian secara masif kepada masyarakat baru dimulai secara konsisten sejak tahun 1965.

“Awalnya hanya untuk internal warga Jayengan yang merantau. Namun karena jemaah semakin banyak, porsi terus ditambah hingga bisa dinikmati masyarakat umum,” jelas Noor Cholish.

Untuk memenuhi antusiasme warga, pihak panitia memasak sekitar 40 hingga 50 kg beras setiap harinya, dicampur dengan 4 kg daging sapi, wortel, serta bumbu rempah yang melimpah. Dari bahan tersebut, dihasilkan 1.500 paket bubur: 1.200 paket untuk warga yang datang membawa wadah, dan 300 paket sisanya untuk takjil di masjid.

Dukungan Pemerintah dan Donatur

Operasional tradisi ini tergolong besar. Dengan biaya harian mencapai Rp 3 juta, dibutuhkan anggaran sekitar Rp 90 juta selama satu bulan penuh. Beruntung, semangat gotong royong tetap terjaga melalui donasi dari berbagai pihak.

"Alhamdulillah, donatur ada yang memberi uang maupun barang. Pemerintah Kota Surakarta sendiri menyumbang 1.500 kg beras untuk kebutuhan tahun ini," tambah Noor.

Proses memasak dimulai sejak pukul 11.00 WIB dan baru siap dibagikan tepat setelah salat Asar. Meski zaman berganti, kuali besar di Masjid Darussalam tetap mengepul, menjaga cita rasa dan tali persaudaraan yang telah terjalin selama hampir satu abad.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS