Jamu
Sabtu, 30 Mei 2026 05:17 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) – Gaya hidup digital kini memicu fenomena baru di kalangan generasi muda yang sering disebut sebagai "remaja jompo".
Duduk berjam-jam di depan laptop saat bekerja remote, kurang bergerak, serta maraknya pola makan siap saji membuat keluhan nyeri sendi kini tidak lagi didominasi oleh kelompok lanjut usia, melainkan mulai mengintai Gen Z dan milenial.
Data Global Burden of Disease menunjukkan kasus osteoarthritis di Indonesia melonjak lebih dari dua kali lipat dalam tiga dekade terakhir. Di kota-kota besar, prevalensi knee osteoarthritis mencapai 15 persen.
Bahkan, gout arthritis atau asam urat kini telah menyerang 32 persen penderita di bawah usia 34 tahun. Fenomena ini diperparah oleh naiknya angka obesitas nasional dari 26,3 persen menjadi 34,4 persen.
Tingginya kesadaran generasi muda terhadap kesehatan holistik memicu pergeseran tren pengobatan. Dibanding menggunakan obat kimia, mereka cenderung memilih solusi alami yang minim efek samping seperti kunyit, jahe, temulawak, hingga ekstrak Boswellia.
Tren wellness ini mendongkrak pertumbuhan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional hingga mencapai 8,35 persen sepanjang tahun lalu.
Tingginya permintaan pasar terhadap obat herbal membuka peluang besar bagi para pelaku usaha untuk menciptakan merek dagang (*brand*) sendiri. Peluang inilah yang ditangkap oleh PT Jaya Raya Investama melalui lini bisnisnya, Pabrik Jasa Maklon Obat Nyeri Sendi Arbain.
Melalui sistem maklon, para pengusaha muda kini tidak perlu membangun pabrik dari nol. Bermitra dengan fasilitas yang telah mengantongi standar BPOM serta Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB), formula herbal berkualitas dapat dikemas secara modern, halal, dan siap edar dalam waktu singkat.
Layanan dari hulu ke hilir ini menjadi jalan pintas bagi pelaku usaha yang ingin merambah industri kesehatan tanpa risiko beban produksi yang berat.
Bagikan