Hemat
Selasa, 01 September 2026 09:28 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA – Tinggal sekaligus bekerja di Jakarta dengan penghasilan Rp5 juta per bulan membutuhkan pengaturan keuangan yang cermat. Pengeluaran untuk tempat tinggal, makanan, transportasi, hingga kebutuhan komunikasi bisa menyerap sebagian besar pendapatan, sehingga uang yang tersisa untuk ditabung menjadi terbatas.
Sebagai perbandingan, Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta 2026 ditetapkan sebesar Rp5.729.876 per bulan. Artinya, gaji Rp5 juta masih berada di bawah standar UMP Jakarta yang berlaku pada 2026.
Meski begitu, bukan berarti pekerja dengan gaji Rp5 juta tidak bisa memiliki tabungan. Dengan menyusun anggaran secara realistis dan mengendalikan pengeluaran rutin, sebagian pendapatan tetap dapat dialokasikan untuk menabung setiap bulan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan di DKI Jakarta pada 2025 mencapai sekitar Rp2,96 juta. Angka tersebut merupakan rata-rata seluruh penduduk, bukan berarti kebutuhan setiap pekerja lajang di Jakarta harus sama.
Lantas, berapa uang yang masih bisa ditabung dari gaji Rp5 juta?
BACA JUGA: 5 Rekomendasi Film Indonesia Terbaru di Bioskop, Ada Operasi Pesta Copet
Dalam simulasi ini, seseorang diasumsikan masih lajang, tinggal di kos sederhana, menggunakan transportasi umum atau kendaraan dengan biaya terbatas, serta tidak memiliki cicilan konsumtif.
Dengan penghasilan Rp5 juta per bulan, contoh pembagian pengeluaran dapat dilakukan sebagai berikut:
Dengan pola tersebut, pekerja bergaji Rp5 juta masih dapat menyisihkan sekitar Rp1,3 juta per bulan atau sekitar 26% dari pendapatan. Jika pola tersebut konsisten selama satu tahun, tabungan yang terkumpul mencapai, Rp1,3 juta x 12 bulan = Rp15,6 juta.
Angka tersebut belum memperhitungkan bunga atau imbal hasil apabila sebagian dana ditempatkan pada instrumen keuangan.
Kondisi di Jakarta tentu berbeda-beda. Pekerja yang memilih kos dengan fasilitas lebih lengkap atau lokasi yang lebih dekat dengan kantor dapat menghadapi biaya tempat tinggal yang lebih tinggi.
Misalnya, biaya kos mencapai Rp1,8 juta per bulan. Dengan asumsi pengeluaran lain tetap sama, simulasi berubah menjadi,
Dalam skenario tersebut, kemampuan menabung turun menjadi Rp700.000 per bulan. Jika dilakukan selama satu tahun, dana yang terkumpul menjadi sekitar Rp8,4 juta.
Target menabung Rp2 juta dari gaji Rp5 juta berarti 40% pendapatan harus disisihkan setiap bulan. Artinya, seluruh kebutuhan hidup harus ditekan maksimal Rp3 juta. Salah satu simulasi yang memungkinkan adalah,
Dengan target tersebut, seseorang dapat mengumpulkan Rp24 juta dalam satu tahun apabila tidak ada pengeluaran besar di luar anggaran. Namun, skenario ini membutuhkan disiplin lebih tinggi karena hanya menyisakan Rp3 juta untuk seluruh kebutuhan hidup selama sebulan.
Bagi pekerja yang baru mulai mengatur keuangan, target menyisihkan sekitar Rp1 juta-Rp1,3 juta per bulan dapat menjadi skenario yang lebih moderat. Jika mampu menabung Rp1 juta setiap bulan, dalam satu tahun dana yang terkumpul mencapai Rp12 juta.
Sementara apabila dapat menyisihkan Rp1,5 juta per bulan, akumulasi tabungan selama satu tahun mencapai Rp18 juta.
Sebagai gambaran:
Dengan demikian, gaji Rp5 juta di Jakarta masih memungkinkan untuk menabung, tetapi besarnya sangat bergantung pada biaya tempat tinggal, pola makan, transportasi, cicilan dan gaya hidup.
Bagi pekerja yang memiliki cicilan kendaraan, pinjaman, atau tanggungan keluarga, ruang untuk menabung tentu akan lebih kecil.
Pada akhirnya, bukan hanya besarnya gaji yang menentukan kemampuan menabung, tetapi juga seberapa besar pengeluaran tetap yang harus dibayar setiap bulan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 01 Sep 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 01 Sep 2026
Bagikan