Formula Konservasi Cagar Budaya Antarkan Dr Hana Wardani Raih Doktor Teknik UNS

Kamis, 06 Agustus 2026 18:34 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001978391.jpg
Dr Hana Wardani Puruhita menerima sertifikat doktoral dari FT UNS (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Penelitian doktoral dari Program Studi S3 Ilmu Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil merumuskan inovasi material perbaikan berbasis kapur yang diperkuat serat alami rami. Terobosan teknis ini dihadirkan sebagai solusi presisi untuk mendukung pemugaran bangunan heritage atau cagar budaya tanpa merusak keaslian struktur aslinya.

Penelitian berjudul “Kompatibilitas antara Bata Merah dan Mortar Repair Berbahan Dasar Kapur dengan Material Bangunan Heritage” tersebut digarap oleh Dr. Hana Wardani Puruhita. Fokus utamanya menekankan pentingnya kesesuaian sifat fisik, mekanis, hingga perilaku sambungan antara material lama (substrate) dan bahan perbaikan baru (repair).

Hana menjelaskan bahwa pemugaran bangunan bersejarah tidak bisa disamakan dengan konstruksi modern yang dominan menggunakan semen. Penambahan serat rami dengan kadar 3 persen dan panjang 1 cm pada mortar kapur mampu menghasilkan keseimbangan optimal antara kekuatan mekanis dan stabilitas dimensional. Selain itu, pemasangan anyaman rami selebar 5 cm pada bagian antarmuka dinding terbukti meningkatkan kontinuitas sambungan.

"Pemugaran bangunan cagar budaya tidak cukup hanya menggunakan material yang kuat. Material perbaikan harus memiliki kesesuaian sifat fisik, mekanis, dan dimensional dengan material asli agar tidak mempercepat kerusakan pada bagian bangunan yang dipertahankan," ujar Hana.

Inovasi ini mendapat apresiasi tinggi dari Direktur Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) Madiun, Dr. Effendhi Prih Raharjo. Menurutnya, temuan tersebut sangat relevan untuk menjaga kelestarian aset-aset perkeretaapian bersejarah di bawah pengelolaan Kementerian Perhubungan maupun PT KAI, seperti stasiun-stasiun tua.

Dr Hana merupakan doktor ke 7 yang dimiliki Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) Madiun, yang nantinya akan menambah nilai positif untuk menaikkan akreditasi kampus. 

"Nilai sejarah itu tidak bisa dinilai dengan uang. Temuan ini menjadi jawaban agar pemugaran tetap mempertahankan bentuk dan nilai sejarah tanpa mengganti wujud aslinya. Kami bangga karena hasil riset ini telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Q2," tegas Effendhi.

Temuan Utama Penelitian 

1.  Bata merah repair perlu dibuat dengan dimensi yang menyesuaikan bata merah asli pada bangunan yang akan dipugar. 

2.  Tanah liat untuk pembuatan bata merah repair perlu melalui proses pemeraman sekurang-kurangnya enam bulan untuk mengurangi penyusutan. 

3.  Kapur murni dalam bentuk padat memberikan kinerja yang lebih baik sebagai bahan pengikat mortar perbaikan. 

4.  Serat rami dengan kadar 3% dan panjang 1 cm menghasilkan keseimbangan optimal antara kekuatan mekanis dan stabilitas dimensional. 

5.  Anyaman  rami  selebar  5  cm  pada  pertemuan  material  heritage  dan  material  repair meningkatkan kontinuitas serta kompatibilitas sambungan. 

6.  Mortar kapur berserat rami berpotensi menjadi material perbaikan yang alami, kompatibel, dan berkelanjutan untuk pemugaran bangunan heritage/cagar budaya. 

Sebagai langkah keberlanjutan, Dr. Hana berencana menyusun buku panduan teknis pemugaran bangunan heritage serta melanjutkan riset hingga tahap formulasi acian dan cat berbasis kapur. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan utama bagi pemerintah, konsultan, kontraktor konservasi, dan praktisi konstruksi dalam melestarikan warisan budaya bangsa.