Flock Kamera Jadi Kontroversi, Begini Cara Teknologi Ini Melacak Mobil

Selasa, 01 September 2026 10:16 WIB

Penulis:Redaksi Daerah

Editor:Redaksi Daerah

Kenali Apa Itu Flock Kamera yang Kini Menjadi Kontroversi
Kenali Apa Itu Flock Kamera yang Kini Menjadi Kontroversi (flocksafety.com)

JAKARTA — Baru-baru ini istilah ‘Flock kamera’ ramai dibicarakan banyak orang terutama yang berada di Amerika Serikat. Pasalnya, kamera tersebut sudah digunakan di ribuan komunitas di berbagai wilayah AS.

Seperti yang dilansir dari Business Insider, kamera Flock adalah alat pembaca pelat nomor otomatis atau Automated License Plate Reader (ALPR) yang dibuat oleh sebuah perusahaan teknologi keamanan publik, Flock Safety.

Kamera Flock biasanya dipasang di sekitar jalan, persimpangan jalan, dekat pintu masuk perumahan, sampai di sekitar area bisnis atau properti pribadi lainnya.

BACA JUGA: Daftar Perusahaan yang Tolak Beri Data Pelanggan Meski Ditekan Aparat

Cara Kerja Flock Kamera

Cara Kerja Flock Kamera

Seperti yang dilaporkan oleh Business Insider, Flock bekerja dengan cara mengambil gambar kendaraan yang melintas. Dengan bantuan teknologi machine learning, sistem akan mengubah informasi seperti nomor pelat, warna mobil, merek, model kendaraan, dan detail lainnya menjadi sebuah data yang bisa dicari.

Teknologi yang dimiliki oleh Flock kamera inilah yang diklaim berguna bagi pihak yang memasangnya termasuk kepolisian. Bahkan, aparat penegak hukum setempat mengatakan bahwa teknologi Flock bisa memudahkan mereka melacak kendaraan dan menemukan tersangka kasus kriminal.

Bahkan, beberapa kasus tertentu, petugas bisa mencari keberadaan kendaraan tertentu lewat jaringan puluhan ribu kamera di seluruh AS.

Akan tetapi, teknologi yang awalnya dianggap berguna ini justru memicu penolakan yang semakin besar. Puluhan komunitas di AS membatalkan Flock kamera, menghentikan sementara, atau bahkan menangguhkan kontrak penggunaan kamera tersebut.

Kekhawatiran yang muncul antara lain menyangkut privasi, potensi penyalahgunaan kamera, serta kemungkinan data dibagikan kepada pejabat federal yang menangani urusan imigrasi.

BACA JUGA: Berkaca dari Kasus Aa Juju, Akankah Mobil Listrik Bisa Gantikan Mobil Bensin?

Mengapa Kamera Flock Menjadi Kontroversi?

Mengapa Kamera Flock Menjadi Kontroversi?

Sebagian orang mengkhawatirkan kamera Flock karena perangkat ini berpotensi mengumpulkan informasi mengenai pengemudi biasa yang tidak sedang dicurigai melakukan kejahatan.

Seperti yang dilansir dari Business Insider, setidaknya ada selusin kasus di berbagai wilayah Amerika Serikat ketika kesalahan pembacaan nomor pelat atau kurangnya verifikasi oleh petugas menyebabkan orang yang tidak bersalah dihentikan dengan todongan senjata atau ditahan di penjara, di antara berbagai dampak lainnya.

Menurut laporan Business Insider, di Toledo, Ohio, misalnya, seorang pengemudi bernama Brandon Upchurch diserang oleh anjing polisi setelah kamera Flock salah membaca angka “7” pada pelat nomornya sebagai angka “2”.

Di Roseville, California, investigasi Business Insider menemukan bahwa Flock salah membaca nomor pelat dalam 71% dari 1.427 peringatan terkait kendaraan curian dan kasus kejahatan berat yang dikeluarkan selama 2023 dan 2024.

Electronic Frontier Foundation (EFF), organisasi nirlaba yang memperjuangkan kebebasan sipil di dunia digital, juga menyebut kamera Flock sebagai bentuk pengawasan massal. Alasannya, kamera tersebut memotret setiap kendaraan yang melintas, bukan hanya kendaraan yang diduga berkaitan dengan tindak kriminal.

Para pengkritik juga menilai jaringan kamera yang luas dapat mengungkap pola aktivitas seseorang. Misalnya, data tersebut bisa menunjukkan kapan sebuah kendaraan mengunjungi rumah tertentu, tempat usaha, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, atau acara politik.

EFF juga menyebut bahwa kamera tersebut pernah disalahgunakan oleh polisi untuk mengawasi mantan pasangan mereka. Teknologi ini juga berpotensi digunakan untuk menargetkan orang yang menjalankan aktivitas yang dilindungi oleh Amandemen Pertama Konstitusi AS atau sedang mencari layanan kesehatan.

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh pada 01 Sep 2026