Solo Paragon Hotel
Selasa, 17 Februari 2026 13:14 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) – Ribuan warga memadati Koridor Ngarsopuro, Mangkunegaran, pada Selasa (17/2) pagi untuk merayakan puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-281 Kota Solo melalui gelaran Festival Jenang Solo 2026. Sebanyak 15.000 porsi jenang dari berbagai varian dibagikan gratis sebagai wujud syukur dan doa bagi kesejahteraan kota.
Kemeriahan pesta rakyat ini dimulai dengan kirab budaya yang megah. Rombongan kirab yang dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, berjalan dari perempatan Pasar Pon menuju panggung utama di depan Omah Sinten.
Kehadiran para peserta kirab dengan busana tradisional menambah kental nuansa budaya di sepanjang jalur utama kota.
Doa untuk Kesejahteraan Nusantara
Dalam prosesi seremonial, Wakil Wali Kota Astrid Widayani mengungkapkan bahwa festival ini merupakan kelanjutan dari rangkaian upacara tradisi yang sebelumnya digelar di Stadion Sriwedari. Dengan mengusung tema Budidaya, Peradaya, dan Sejahtera, pemerintah kota mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu dalam doa.
"Alhamdulillah, seluruh rangkaian upacara hingga festival ini berjalan lancar. Ini adalah momen kita memohon keselamatan dan memanjatkan doa kepada Tuhan agar di usia ke-281 ini, Kota Solo dan seluruh warganya senantiasa dilimpahi keberkahan," tutur Astrid.
Ikon Baru: Jenang Nirmala
Manajer Kreatif Festival Jenang Solo, Heru Mataya, menjelaskan bahwa edisi tahun ini memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Melibatkan 130 peserta dari berbagai kalangan, festival kali ini memperkenalkan Jenang Nirmala sebagai menu utama yang penuh filosofi.
"Jenang Nirmala menjadi simbol istimewa tahun ini. Nama 'Nirmala' sendiri mengandung harapan untuk menolak bala dan menjauhkan bencana. Kami berharap pada tahun 2026 ini, Nusantara menjadi Indonesia yang cerah dan sejahtera tanpa halangan apa pun," jelas Heru di sela-sela acara.
Antusiasme Tinggi
Meski acara baru dimulai pukul 08.30 WIB, masyarakat sudah terlihat menyemut sejak pagi hari. Berbagai macam jenang, mulai dari jenang tradisional hingga kreasi baru, dibagikan oleh para peserta festival kepada pengunjung yang melintas.
Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas dalam festival ini membuktikan bahwa jenang bukan sekadar makanan, melainkan medium perekat sosial dan identitas budaya yang tetap relevan bagi masyarakat Solo di tengah kemajuan zaman.
Bagikan