Pura Mangkunegaran
Selasa, 03 November 2026 22:39 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Kusumawati

SOLO (Soloaja.co) — Rangkaian utama Dhaup Ageng Pura Mangkunegaran resmi dimulai pada Selasa, 3 November 2026. Calon temanten putri, G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau yang akrab disapa Gusti Sura, menjalani prosesi Sungkeman dan Sengkeran sebagai bagian dari persiapan batin menuju pernikahan bersama K.P.H. F.X. Adimas Rosdian.
Prosesi diawali dengan Sungkeman, di mana Gusti Sura menyampaikan rasa bakti sekaligus memohon restu kepada sang ibunda di hadapan para sesepuh keluarga Mangkunegaran. Momen sakral ini menempatkan peran keluarga sebagai fondasi doa, nasihat, dan penguatan batin bagi kedua calon pengantin.
Usai Sungkeman, Gusti Sura memasuki masa Sengkeran yang berlokasi di lingkungan Keputren Pura Mangkunegaran. Selama masa penepian ini, calon pengantin diajak untuk menenangkan pikiran, menghayati pitutur keluarga, serta memantapkan komitmen diri.
Juru Bicara Dhaup Ageng, K.P.H. Tjuk Susilo, menjelaskan bahwa Sengkeran memiliki makna mendalam dan tidak sekadar diartikan sebagai pingitan fisik semata.
"Sengkeran tidak semata-mata dimaknai sebagai pingitan, melainkan sebagai jeda yang sengaja disediakan dalam tradisi agar calon temanten dapat melakukan refleksi dan mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab baru dalam kehidupan rumah tangga," terang K.P.H. Tjuk Susilo.
Menariknya, selama tiga hari masa Sengkeran berlangsung, suasana syahdu dihadirkan melalui lantunan tembang Macapat oleh para nini, yakni sebutan bagi para abdi dalem perempuan sepuh Mangkunegaran. Tembang-tembang tersebut dibawakan secara kosongan atau tanpa iringan alat musik gamelan, sehingga fokus tertuju penuh pada kejernihan vokal, penghayatan syair, dan kedalaman pesan.
Lantunan Macapat yang dibawakan para nini berisi pitutur dan nasihat luhur mengenai pendampingan, keselarasan hidup, ketulusan, serta doa harapan baik bagi bahtera rumah tangga kedua calon temanten.
Melalui tatanan doa keluarga, laku persiapan batin, dan kesetiaan para penjaga tradisi di Pura Mangkunegaran, prosesi Sungkeman dan Sengkeran ini menjadi pembuka yang mengukuhkan bahwa pernikahan bukan hanya momen penyatuan dua insan, melainkan juga simbol keberlanjutan nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.
Bagikan