Bleketepe dan Adang Sepisan, Merawat Tradisi Lewat Dhaup Mangkunegaran

Rabu, 04 November 2026 20:41 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Kusumawati

1002313368.jpg
Pemasangan bleketepe hiasan janur penyambut tamu dalam Dhaup Ageng Mangkunegaran (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Rangkaian ritual adat mewarnai hari kedua Hajad Dalem Dhaup Ageng antara G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura) dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian. Tiga prosesi utama, yakni pemasangan Bleketepe, pembukaan Singup Tuwuhan, dan Adang Sepisan dilangsungkan penuh khidmat di Pura Mangkunegaran, Rabu (4/11/2026).

Prosesi diawali dengan pemasangan Bleketepe dan pembukaan Singup Tuwuhan di Bangsal Tosan oleh S.I.J. K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X bersama Ibunda Gusti Sura, G.K.P. Mangkoenagoro IX, serta sederek dalem. 

Anyaman daun kelapa (Bleketepe) dipasang sebagai simbol penanda hajatan dan permohonan perlindungan, disusul pembukaan Tuwuhan sebagai lambang doa kesuburan serta kehidupan baru bagi kedua calon pengantin.

Ritual berlanjut ke Jayengan atau Pawon Ageng untuk melangsungkan Adang Sepisan. Dipandu R.Ay.T. Anna Hoedoko, Mangkoenagoro X dan G.K.P. Mangkoenagoro IX menuangkan beras ke dalam alat masak pusaka Mangkunegaran, Nyai Dandang dan Nyai Sumyang. 

Penggunaan dua alat masak pusaka yang kembali dipakai setelah 18 tahun ini mempertegas kesinambungan tata cara adat yang diwariskan lintas generasi.

Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, menyampaikan bahwa seluruh tahapan ini tidak sekadar persiapan fisik tempat dan hidangan, melainkan simbol filosofis kesiapan Pura Mangkunegaran dalam menyambut para tamu. 

Rangkaian acara pada hari yang sama ditutup dengan prosesi Nyantri pada sore hari sebagai bentuk penerimaan resmi calon pengantin pria beserta keluarga besar.