#tukar uang
Senin, 18 Mei 2026 18:08 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA - Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.657,5 per dolar AS pada Senin, 18 Mei 2026. Angka ini bukan hanya sekadar pergerakan pasar keuangan, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Harga kedelai mulai naik, ukuran tempe menyusut, hingga para pengrajin tahu di berbagai daerah harus mencari cara agar usaha mereka tetap berjalan.
Pelemahan tersebut juga tercatat sebagai salah satu titik terburuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sepanjang sejarah. Di tengah kekhawatiran publik soal kondisi ekonomi, Presiden Prabowo Subianto menyikapi situasi itu dengan santai saat berada di Nganjuk pada Sabtu, 16 Mei 2026.
"Rakyat di desa enggak pakai dollar kok," ujar Prabowo, dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Presiden. Kalimat itu viral, tapi benarkah yang disampaikan Prabowo?
Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk sejumlah kebutuhan dasar, mulai dari pangan hingga kesehatan. Masalahnya, hampir seluruh transaksi impor tersebut dibayar menggunakan dolar AS.
Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis naik dan dampaknya bisa langsung terasa ke harga barang sehari-hari. Beberapa komoditas penting yang masih bergantung pada impor antara lain sebagai berikut,
Intinya, pelemahan rupiah bukan hanya soal angka di pasar valuta asing. Ketika terlalu banyak kebutuhan dasar bergantung pada impor berbasis dolar, tekanan kurs bisa langsung memengaruhi biaya hidup masyarakat sehari-hari.
Baca juga : Paradoks Rupiah: Ekonomi Diklaim Naik 5,61%, Why Asing Malah 'Flight to Safety'?
Data yang perlu kamu pahami,
Secara literal, Prabowo tidak salah. Petani di Jawa Tengah memang tidak ke warung sambil pegang lembar hijau bertuliskan "Federal Reserve." Tapi perjalanan dolar ke dapur mereka tidak butuh kontak langsung.
Pengamat ekonomi UGM, Fahmy Radhi, menyebut pernyataan itu salah dan gegabah. Ia mencontohkan kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat menggunakan dolar. Ketika rupiah jatuh, harga kedelai ikut mahal, dan perajin tahu tempe di desa harus membeli bahan baku dengan harga lebih tinggi tanpa bisa menaikkan harga jual secara signifikan.
Masyarakat desa memang tidak memakai dolar di pasar, warung, sawah, atau kandang ternak. “Tetapi mereka tetap hidup dalam sistem harga nasional yang sangat dipengaruhi dolar,” ujar Fahmi dalam keterangannya, dikutip Senin, 18 Mei 2026.
Dampaknya tidak hanya soal kedelai. Saat mata uang melemah, biaya impor minyak dan gas, pupuk, pakan ternak, pestisida, obat-obatan, alat pertanian, plastik kemasan, dan barang konsumsi ikut naik. Kenaikan biaya ini bergerak melalui rantai distribusi dari pelabuhan, gudang, distributor, truk, pasar kecamatan, kios tani, hingga rumah tangga desa.
Yang paling ironis, kebutuhan kedelai nasional diperkirakan mencapai sekitar 3 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya berkisar 300 hingga 500 ribu ton.
Sisanya harus ditutup melalui impor, terutama dari Amerika Serikat dan Brasil. Kita bergantung pada luar negeri untuk bahan baku makanan paling "Indonesia" yang ada.
Baca juga : "Jangan Jadi 'Tumbal' Forced Sell Eks-BREN & AMMN, Cek Safe Haven Baru!"
Analis Ibrahim Assuaibi memperingatkan jika level Rp18.000 tertembus, ada kemungkinan rupiah bisa menuju Rp22.000. Penguatan dolar didorong oleh kepemimpinan baru The Fed di bawah Kevin Warsh yang diprediksi membawa kebijakan moneter lebih ketat, ditambah memanasnya situasi di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak.
Jika kondisi tersebut terjadi, hitung sendiri dampaknya, kedelai yang sekarang Rp11.000/kg bisa menyentuh Rp13.000-an. Harga mi instan, roti, dan semua produk berbasis tepung ikut naik.
BBM nonsubsidi yang sudah di angka Rp26.000-an per liter akan makin jauh dari jangkauan. Inflasi yang sudah diperkirakan 4,5-4,8% bisa melampaui angka itu.
Kurs tidak bisa kamu kendalikan, tapi pengeluaran bisa, sederet hal ini perlu kamu perhatikan jika mau bertahan,
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 18 May 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 18 Mei 2026
Bagikan