SIPA
Sabtu, 12 September 2026 19:45 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) —Ekspansi industri perkebunan kelapa sawit dan monokultur kayu yang kian masif di tanah Papua tidak hanya memicu krisis lingkungan berskala besar, tetapi juga meruntuhkan ruang hidup serta martabat masyarakat adat.
Menanggapi darurat ekologis dan kemanusiaan ini, seniman Aries BM mempersembahkan karya performance art kontemporer bertajuk Wounded Indigenous Territory (WIT) dalam rangkaian Solo International Performance Art (SIPA) di Pura Mangkunegaran, Solo, Jumat (11/9/2026) pukul 19.00 WIB.
Karya ini lahir sebagai gugatan moral dan refleksi kritis terhadap laju modernisasi ekstraktif yang mengabaikan kedaulatan masyarakat adat di Bumi Cendrawasih. Melalui bahasa simbolik yang tajam, Aries BM menerjemahkan kompleksitas konflik agraria, perampasan tanah, dan marjinalisasi manusia ke dalam sebuah peristiwa estetik.
Dalam pementasannya yang berkolaborasi dengan Ayi Dance, Aries BM merancang setiap elemen visual secara cermat untuk mewakili rantai kuasa dan penderitaan ekologis:
Papua kini berada di persimpangan jalan mengkhawatirkan akibat alih fungsi hutan adat.
Melalui WIT, Aries BM menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar statistik hilangnya tutupan hutan, melainkan tragedi kemanusiaan yang merenggut identitas dan masa depan warga lokal. Seni pertunjukan ini dihadirkan sebagai perlawanan kultural guna membunyikan alarm darurat di tengah kesadaran publik yang kian tumpul.
Aries BM, yang merupakan dosen sekaligus Wakil Direktur Pascasarjana ISI Surakarta, berharap aksi ini dapat menggugah empati masyarakat, pengambil kebijakan, dan pelaku industri. Kedaulatan masyarakat adat atas tanah leluhur harus segera dipulihkan sebelum kerusakan ekologis di Papua mencapai titik irreversible.
Bagikan