Tim DKV ISI Surakarta Luncurkan Paper Bag Modular Upaya Branding Kawasan Laweyan

Kusumawati - Selasa, 15 September 2026 16:36 WIB
Penyerahan paper bag modular dari PPM DKV FSRD ISI Surakarta pada kampung Laweyan (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Tim Pengabdian Masyarakat (PPM) dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta resmi menyerahkan inovasi kemasan paper bag bersistem modular kepada Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) pada Selasa (15/9).

Penyerahan ini menandai puncak program pengabdian yang berlangsung sejak 2 Juli 2026 sebagai upaya memperkuat strategi rebranding kolektif kawasan heritage tersebut.

Ketua Tim PPM DKV ISI Surakarta, Ipung Kurniawan Yunianto menjelaskan, inovasi ini dirancang untuk menjawab tantangan penjenamaan di Laweyan.

“Kemasan ini harus mampu membawa nama FPKBL sebagai komunitas, mengangkat Batik Heritage Laweyan (BLH) sebagai lini produk kolektif berkelanjutan, serta memberikan ruang bagi identitas masing-masing pelaku usaha independen tanpa memicu resistensi.” Kata Ipung.

Inovasi sistem modular diwujudkan dengan memanfaatkan limbah kain batik sebagai saku seukuran kartu nama pada paper bag. Saku ini memungkinkan setiap pelaku usaha menyisipkan kartu identitas toko mereka.

Sementara itu, material utama kemasan menggunakan kertas degradable yang sejalan dengan prinsip produk BLH yang ramah lingkungan, seperti penggunaan pewarna alam dan malam dari limbah kelapa sawit.

Program pengabdian yang didanai melalui DIPA ISI Surakarta Tahun 2026 ini turut melibatkan peneliti M. Harun Rosyid Ridlo beserta sejumlah mahasiswa.

Proses pengerjaan berlangsung selama tiga bulan, meliputi tahap observasi dan pengumpulan data pada Juli, perancangan serta pembuatan purwarupa pada Agustus, hingga uji coba dan produksi akhir pada September.

Acara penyerahan simbolis kepada pengelola dan perwakilan masyarakat dihadiri oleh tokoh budaya, penggiat sejarah, serta warga Laweyan. Langkah ini diorientasikan untuk mendukung kegiatan edukasi dan wisata sejarah di kawasan setempat.

Ketua FPKBL, Alpha Febela Priyatmono menyambut positif terobosan tersebut. Kehadiran paper bag modular dinilai menjadi sarana taktis pendukung branding kawasan yang menegaskan komitmen FPKBL terhadap ekonomi sirkular.

“Kemasan ini sebagai sarana penunjang branding kawasan heritage yang adaptif terhadap isu keberlanjutan dari aspek komunitas, lingkungan, maupun sektor komersial.” Ungkap Alpha.

Lurah Laweyan, Kasriyati menegaskan harapannya agar program ini tidak sekadar berhenti sebagai proyek pengabdian dan produksi media penguat branding semata, melainkan dapat terus dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh komunitas setempat.

Melalui pendekatan branding berbasis kolektivitas dan keberlanjutan ini, tim ISI Surakarta berharap Kampoeng Batik Laweyan dapat menjadi laboratorium branding komunitas yang adaptif bagi generasi mendatang.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS