Stok Melimpah, Indonesia Siap Ekspor 1,5 Juta Ton Pupuk ke India

Kusumawati - Jumat, 17 April 2026 09:28 WIB
Wamentan Sudaryono menerima Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty (Soloaja/humas kementan RI)

JAKARTA (Soloaja.co) – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, memastikan ketersediaan pupuk nasional berada dalam kondisi aman meski rantai pasok global tengah terganggu akibat ketegangan geopolitik. Indonesia bahkan mencatatkan surplus produksi yang membuka peluang ekspor ke sejumlah negara mitra, termasuk India dan Australia.

Kepastian ini disampaikan Wamentan yang akrab disapa Mas Dar tersebut usai menerima audiensi Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, dan jajaran Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

“Ketahanan pupuk kita kuat di tengah situasi perang. Saya ingin sampaikan kepada seluruh petani bahwa stok kita cukup, bahkan berlebih,” ujar Wamentan Sudaryono.

Saat ini, kapasitas produksi PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai 14,65 juta ton per tahun. Setelah dilakukan perhitungan untuk mencukupi kebutuhan petani dalam negeri, terdapat kelebihan pasokan atau ekses sekitar 1,5 juta ton yang siap dialokasikan untuk pasar internasional secara terukur.

Wamentan menjelaskan bahwa ekspor ke India sangat memungkinkan karena adanya perbedaan musim tanam antara kedua negara. Duta Besar India, Sandeep Chakravorty, menyambut baik peluang ini dan menyatakan kesiapan India untuk mengimpor melalui skema kerja sama antar pemerintah (*G2G*).

Senada dengan itu, Direktur Utama PIHC, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa ekspor hanya akan dilakukan saat kebutuhan domestik terpenuhi dan di luar periode musim tanam nasional. Saat ini, stok pupuk nasional berada di angka 1,2 juta ton dengan tambahan produksi harian yang sangat memadai.

“Ini membuktikan resiliensi Indonesia. Di sektor industri pupuk, kita tidak rentan, justru bisa mengambil peran membantu negara-negara yang membutuhkan,” kata Rahmad.

Selain India, peluang kerja sama serupa juga dijajaki dengan Australia. Wamentan Sudaryono menyebut hubungan dagang dengan Australia bersifat timbal balik (resiprokal), di mana Indonesia mengekspor urea dan mengimpor bahan baku pupuk seperti fosfat. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis dalam mendukung ketahanan pangan global.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS