Siswa SMP Muhammadiyah PK Solo Belajar Mandiri di Wonogiri

Kusumawati - Selasa, 03 Februari 2026 15:17 WIB
Siswa SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo 3 hari belajar jadi warga desa di Selogiri Wonogiri (Soloaja)

WONOGIRI (Soloaja.co) – Sebanyak 150 siswa kelas VII SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta menjalani pengalaman hidup baru melalui kegiatan home stay atau live in di Dukuh Keblokan, Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selogiri, Wonogiri.

Selama tiga hari dua malam (29–31/1/2026), para siswa melebur dengan kehidupan pedesaan untuk menguatkan kemandirian dan kepedulian sosial.

Mengusung tema “Mandiri dalam Keseharian, Bermakna dalam Kebersamaan”, para siswa tidak tinggal di penginapan, melainkan di rumah-rumah warga yang menjadi orang tua asuh mereka.

Belajar Roti Legendaris hingga Sembako Murah

Selama menetap, para siswa mengikuti serangkaian agenda padat yang edukatif. Pada Jumat (30/1/2026), mereka mengunjungi industri rumahan Roti Widoro yang legendaris karena berdiri sejak 1922, serta belajar teknik budidaya di lokasi Stek Anggur.

Pemilik Roti Widoro, Sri Harjanto Yuwono, mengaku terkesan dengan antusiasme para siswa. "Semoga mereka terinspirasi memahami dunia usaha sejak dini sambil melihat bagaimana kami menjaga kualitas rasa selama lebih dari satu abad," ungkapnya.

Tak hanya belajar bisnis, sisi religius dan sosial juga diasah melalui penyelenggaraan lomba TPA bagi anak-anak desa, pengajian akbar, hingga aksi nyata berupa Bazar Sembako Murah. Sebanyak 200 paket sembako dibagikan kepada warga sekitar sebagai wujud tali asih.

Menanamkan Nilai Karakter Secara Langsung

Kepala SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta, Muhdiyatmoko, M.Pd., menegaskan bahwa home stay adalah laboratorium karakter yang paling efektif.

“Anak-anak belajar hidup mandiri mulai dari hal kecil seperti membersihkan rumah orang tua asuh, mencuci piring, hingga berinteraksi sopan dengan warga. Kami ingin nilai-nilai tanggung jawab ini terus dipraktikkan sekembalinya mereka ke rumah,” jelas Muhdiyatmoko.

Hal senada dirasakan oleh Kavaya Altamizza Ibrahim, salah satu peserta kelas VII. Ia mengaku kegiatan ini memberinya perspektif baru tentang kedisiplinan. "Saya belajar menyapu, mengepel, dan harus disiplin bangun subuh. Ini membuat saya lebih mandiri dan banyak bersyukur," tuturnya.

Apresiasi dari Warga Desa

Kehadiran para siswa di Dukuh Keblokan meninggalkan kesan mendalam bagi warga. Pragunadi, salah satu orang tua asuh sekaligus Takmir Masjid Al Ikhlas, memuji perilaku para siswa yang dinilai sangat santun.

“Anak-anak sangat rapi, disiplin, dan sopan. Warga merasa senang dan positif. Jika ada kesempatan lagi, kami dengan tangan terbuka siap menerima mereka kembali,” pungkasnya.

Suasana haru mewarnai momen perpisahan pada Sabtu siang saat para siswa berpamitan dengan orang tua asuh mereka untuk kembali ke Kota Solo membawa pengalaman hidup yang tak terlupakan.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS