Simposium Pemikiran Kiai Ahmad Rifa'i Digelar di UIN Surakarta

Kusumawati - Senin, 13 Juli 2026 17:34 WIB
Simposium membahas ajaran Kiai Ahmad Rifa'i digelar UIN RM Sa'id Surakarta (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Lembaran-lembaran kertas usang yang sarat sejarah akhirnya keluar dari ruang sunyi. Pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa'iyah (PP AMRI) menggandeng Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar Simposium Pemikiran dan Pameran Manuskrip Pahlawan Nasional, Kiai Haji Ahmad Rifa'i, Senin (13/7/2026).

Eksibisi yang berpusat di Gedung Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta ini menjadi gerakan kebudayaan penting untuk membuka ruang akademik yang lebih luas bagi sang ulama pejuang abad ke-18 tersebut. Bertajuk "Pemikiran KH Ahmad Rifa'i dan Relevansinya bagi Islam Kontemporer di Nusantara", acara ini dibuka langsung oleh Rektor UIN Raden Mas Said, Prof. Dr. H. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag.

Ketua Panitia Kegiatan, Ahmad Zahid Ali, S.T., mengungkapkan bahwa sebanyak 52 kitab manuskrip otentik diboyong langsung dalam pameran ini. Tidak hanya tumpukan kitab kuno, pengunjung juga disuguhi bukti fisik berupa *bathok* (tempurung kelapa) legendaris. *Bathok* ini merupakan alat ukur zakat resmi atau takaran satu mud buatan KH Ahmad Rifa'i untuk memastikan keadilan takaran pada zamannya.

Mengikis Stigma Kolonial Melalui Riset

Meski KH Ahmad Rifa'i telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional sejak tahun 2004, diskursus ilmiah mengenai pemikirannya di ranah pendidikan tinggi rupanya masih minim. Bahkan, di UIN Raden Mas Said sendiri, kajian ilmiah berbasis karya Rifa'iyah tercatat belum pernah ada.

Melalui simposium ini, Direktur Pascasarjana UIN Raden Mas Said, Prof. Dr. Islah Gusmian, S.Ag., M.Ag., hadir sebagai *keynote speaker* untuk mengupas tuntas tema "Tradisi Manuskrip Pegon dan Literasi Islam Lokal".

Langkah akademik ini dinilai krusial untuk meluruskan sejarah sekaligus mengikis stigma masa lalu. Berdasarkan catatan kolonial seperti *Serat Cabolek* yang diinisiasi pemerintah Hindia Belanda, ajaran KH Ahmad Rifa'i bersama KH Ahmad Mutamakin sempat dicap sesat.

Manuskrip kuno peninggalan Kiai Ahmad Rifa'i

Label tersebut sengaja disematkan karena gerakan perlawanan mereka yang radikal dianggap membahayakan stabilitas politik penjajah, sehingga membuat pengikut dan karyanya sempat terasingkan hingga medio tahun 2000-an.

"Harapannya setelah ini, orang-orang akan melakukan penelitian lebih lanjut terkait pemikiran Kiai Haji Ahmad Rifa'i, baik berbentuk skripsi, tesis, disertasi, maupun diskusi ilmiah lainnya," ujar Ahmad Zahid.

Patokan Dakwah "Santri Tarjumah"

KH Ahmad Rifa'i hidup pada periode 1800-an (1786–1871 M), jauh sebelum masa berdirinya Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah. Keistimewaan dakwah beliau terletak pada keberaniannya mendobrak batasan bahasa dengan mentransformasikan teks-teks Arab yang rumit ke dalam bahasa Jawa beraksara Pegon yang digubah dalam bentuk syair (*nadhom*).

Metode ini sangat revolusioner pada masanya untuk mencerdaskan masyarakat awam dan golongan *abangan* yang kesulitan membaca kitab kuning gundul. Berkat pendekatan translasi yang membumi ini, para santri pengikutnya kemudian dikenal luas sebagai "Santri Tarjumah".

Pemikiran keagamaan dalam Kitab Tarajumah ini juga dibahas secara mendalam oleh Cendekiawan Muda Rifa'iyah, KH. Muhammad Abidun, LC., dalam sesi panel narasumber.

Merawat Warisan yang Terpencar

Menyangkut dokumen primer, Ahmad Zahid memaparkan bahwa sebagian besar manuskrip asli yang terawat dengan baik justru berada di luar negeri, seperti di Perpustakaan Universitas Leiden (Belanda) dan *The British Library* (Inggris).

Sementara sisa naskah di dalam negeri masih dirawat secara swadaya oleh para ahli waris jemaah Rifa'iyah secara turun-temurun. Genealogi pemikiran serta perkembangan dakwah kontemporer ini turut dibedah oleh Rektor Unisnu Jepara Prof. Dr. H. Abdul Djamil, M.A., bersama Ketua Umum PP Rifa'iyah Dr. KH. Mukhlisin Muzarie, M.A.

Guna menjembatani jarak sejarah dengan generasi muda, Ketua Umum PP AMRI, Abdul Kholiq, M.Pd., A.H., menegaskan pentingnya relevansi gerakan ini untuk penguatan Islam Nusantara.

Oleh karena itu, panitia sengaja memadukan manuskrip kuno dengan kitab-kitab cetakan baru agar para mahasiswa dan pengunjung yang memadati lokasi dari pukul 08.00 hingga 15.00 WIB tidak sekadar mengagumi fisik naskah kuno, tetapi juga dapat belajar membaca aksara Pegon secara langsung.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS