Simbol Modernisasi, FBM Desak Pembangunan Patung PB X di Solo
SOLO (Soloaja.co) – Ketua Umum Forum Budaya Mataram (FBM), BRM Dr. Kusumo Putro, S.H., M.H., kembali menyuarakan urgensi pembangunan patung Pahlawan Nasional Pakoe Boewono X (PB X) kepada Pemerintah Kota Surakarta maupun Pemerintah Pusat.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat identitas Solo sebagai kota budaya sekaligus penghormatan atas jasa besar sang raja dalam meletakkan fondasi modernisasi di Indonesia.
Kusumo mengusulkan beberapa titik strategis untuk pembangunan patung tersebut. Di antaranya adalah kawasan flyover Purwosari yang merupakan pintu masuk Kota Solo dari arah barat, serta area di depan Balai Kota atau sekitaran Gapura Gladak.
- Seminar Self-Healing Magister Dikdas UMS Hadirkan dr. Aisah Dahlan
- Halalbihalal UNISRI: Ikhlas Jadi Kunci Capai Prestasi
"Lokasi di sekitar Gladak sangat tepat karena berdekatan dengan patung Slamet Riyadi. Nantinya, kedua patung ini dapat menjadi simbol kepahlawanan dari dua masa yang berbeda dalam menentang kolonialisme dan memperjuangkan kemerdekaan," ujar Kusumo yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pemerhati Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI), Senin (30/3/2026).
PB X: Pelopor Modernisasi Melampaui Zaman
Dorongan pembangunan patung ini bukan tanpa alasan kuat. Sejarah mencatat PB X sebagai sosok visioner yang menjembatani tradisi Jawa dengan kemajuan modern. Salah satu jasa besarnya adalah mendirikan Solosche Electrisireits Maatschappij (SEM) pada 12 Maret 1901, yang menjadikan Solo sebagai kota modern setelah Batavia melalui penyediaan energi listrik untuk kantor pemerintah, keraton, hingga trem listrik pada 1912.
Tak hanya di sektor energi, jejak kepemimpinan PB X masih kokoh berdiri hingga saat ini, mulai dari Pasar Gede Harjonagoro, Stasiun Solo Jebres, Stadion Sriwedari, hingga infrastruktur pendidikan seperti Madrasah Mambaul Ulum dan sekolah pertanian.
"Beliau membangun peradaban. Pembangunan patung ini akan menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa Solo memiliki pahlawan nasional yang tidak hanya berjuang secara fisik, tetapi juga melalui kemajuan ekonomi dan infrastruktur," tambah Kusumo.
- Bulog Surakarta Percepat Serapan Gabah, Amankan 29 Ribu Ton Beras
- Jemaat Gereja St. Ignatius Danan Ikut Misa Minggu Palma di Giriwoyo
Memperkuat Landscape Cagar Budaya
Lebih lanjut, Kusumo menekankan bahwa pembangunan patung PB X harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari revitalisasi Keraton Kasunanan Surakarta yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Menurutnya, pembenahan kawasan pendukung sangat diperlukan untuk menciptakan satu kesatuan landscape sejarah yang utuh di Surakarta.
Selain memperkuat jati diri bangsa, keberadaan monumen ini diyakini mampu memberikan kontribusi ekonomi melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat lokal.
"Pembangunan ini tidak hanya soal histori dan budaya, tapi juga kajian tata kota dan daya tarik wisata. Ini akan menjadi inspirasi inovasi seni budaya sekaligus memupuk nilai persatuan di tengah keberagaman," pungkasnya.
