Siap-Siap! 10 Tren Kesehatan Ini Akan Booming di 2026
JAKARTA — Memasuki tahun 2026, dunia kesehatan dan gaya hidup tampaknya juga ikut mengalami berbagai perubahan.
Kini, masyarakat Indonesia terlihat semakin sadar terhadap pentingnya menjaga kesehatan jangka panjang.
Hal itu dapat diketahui lewat berkembangnya teknologi medis, wearable device, akses data kesehatan personal, hingga berbagai event yang melibatkan aktivitas fisik dan olahraga.
Selain itu, masyarakat juga tak lagi hanya mengikuti tren sesaat. Banyak orang mulai mencari pendekatan kesehatan yang lebih terukur, preventif, dan berbasis sains.
BACA JUGA: 5 Cara Sederhana Jaga Kesehatan dan Kebugaran di 2026
Di tengah maraknya tren wellness yang viral di media sosial, para ahli memprediksi sejumlah tren kesehatan akan benar-benar booming di 2026. Berikut penjelasan selengkapnya, seperti yang telah dilansir dari Prenuvo.
Tren Kesehatan yang Diprediksi Menjamur di 2026

1. Fasilitas Tes Darah Tahunan Semakin Lengkap
Tahun 2026, tampaknya masyarakat tak hanya melakukan tes darah sederhana. Diprediksi, semakin banyak orang memilih tes darah lanjutan yang bisa mendeteksi resistensi insulin, peradangan, keseimbangan hormon, metabolisme, sampai risiko genetik.
Tes ini diyakini mampu membantu mendeteksi masalah kesehatan sejak dini, bahkan sebelum gejala muncul, sehingga bisa menyesuaikan pola makan dan gaya hidup lebih cepat.
2. Munculnya Sistem Keanggotaan Kesehatan

Banyak orang akan memilih layanan kesehatan berbasis keanggotaan atau langganan, dengan biaya bulanan atau tahunan.
Layanan dengan sistem keanggotaan ini menawarkan akses lebih cepat ke dokter, konsultasi daring, pemantauan kesehatan berkelanjutan, dashboard personal, hingga pendampingan kesehatan jangka panjang.
3. Rutin MCU Tahunan
Cek kesehatan tahunan sebenarnya bukan hal baru. Akan tetapi, sekarang mulai ingin mengetahui kondisi kesehatannya dengan mendeteksi perubahan kecil di tubuh sebelum berkembang jadi masalah serius.
BACA JUGA: 4 Tes Sederhana untuk Ketahui Gejala Penuaan pada Diri Anda
4. Menurunnya Minat Konsumsi Makanan Ultra-proses

Penelitian menunjukkan bahwa makanan ultra-proses meningkatkan risiko kematian, penurunan fungsi kognitif, dan gangguan metabolik.
Dengan semakin sadarnya masyarakat akan kesehatan dan biaya yang cukup tinggi untuk berobat, masyarakat mulai mengurangi minat mengonsumsi makanan ultra-proses.
Selain itu, label makanan, kebijakan, dan definisi “junk food” diperkirakan akan ikut berubah.
5. Pembahasan Serius Soal Kondisi Peradangan
Peradangan kronis sekarang dipahami sebagai akar dari berbagai penyakit, mulai dari kanker hingga penyakit jantung. Bahkan, peradangan juga berkaitan dengan penuaan yang lebih cepat.
Karena itu, orang mulai mengukur tingkat peradangan melalui tes darah lanjutan, mengatur pola makan anti-inflamasi, mengelola stres lewat meditasi, dan memantau kualitas tidur serta pemulihan tubuh lewat wearable.
BACA JUGA: 10 Olahraga yang Jadi Tren di Indonesia Selama 2025 Berdasarkan Google Year in Search 2025
6. Otot Sebagai Indikator Kesehatan Metabolik

Dulu orang menganggap seseorang yang membangun otot hanyalah untuk memperbaiki penampilan semata. Namun kini, orang-orang semakin sadar bahwa massa otot yang kita miliki sangat berkaitan dengan sensitivitas insulin, metabolisme, dan kesehatan jangka panjang.
Karena itu, banyak orang mulai fokus pada latihan kekuatan, komposisi tubuh, asupan protein, dan bukan sekadar angka timbangan atau BMI.
7. Mengutamakan Kesehatan Otak
Kesadaran akan kesehatan otak meningkat pesat. Penurunan fungsi kognitif tidak lagi dianggap sebagai suatu hal yang tak terhindarkan.
Tidak mengherankan jika banyak orang kini mulai berinvestasi pada berbagai aktivitas latihan otak, konsumsi suplemen adaptogen, pemilihan makanan fungsional, alat yang dapat memantau kecerdasan, serta gaya hidup sehat seperti olahraga, tidur cukup, manajemen stres, dan meningkatkan hubungan sosial yang baik.
8. Fokus pada Kesehatan Usus yang Lebih Personal
Kesehatan usus kini dipahami sebagai kunci metabolisme, berat badan, hingga suasana hati. Selain itu, orang-orang juga semakin menyadari bahwa setiap orang memiliki komposisi mikrobioma yang berbeda.
Oleh karena itu, tes usus personal, probiotik khusus, dan nutrisi berbasis mikrobioma semakin diminati untuk mengurangi peradangan dan mencegah penyakit kronis.
9. Memprioritaskan Tidur

Tidur sekarang tidak lagi dianggap sekadar kebutuhan atau hanya memulihkan diri usai bekerja, melainkan pilar utama kesehatan. Alat kesehatan dan berbagai aplikasi kesehatan kini membantu melacak fase tidur, pemulihan tubuh, dan ritme sirkadian.
Teknologi tidur berbasis AI, suplemen tidur, terapi cahaya, hingga tempat tidur pintar diprediksi akan semakin berkembang.
10. Peningkatan Fungsi Teknologi AI
Pada 2026, AI tidak lagi hanya pendukung, tetapi mitra aktif dalam pengelolaan kesehatan.
Teknologi AI diprediksi akan membantu pengembangan obat, deteksi penyakit dini, interpretasi hasil medis, hingga memberi rekomendasi kesehatan personal secara real-time.
BACA JUGA: 6 Makanan yang Dianggap Sehat tapi Justru Berdampak Buruk untuk Kesehatan
Itu tadi beberapa tren kesehatan yang diprediksi akan semakin menjamur di tahun 2026.
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh pada 05 Jan 2026
