Relawan Sukoharjo-Klaten Bersihkan Sungai Brambang
SUKOHARJO (Soloaja.co) — Menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi di puncak musim penghujan, pemerintah dan relawan dari Kabupaten Sukoharjo dan Klaten bersinergi menggelar aksi pembersihan besar-besaran di Sungai Brambang, Senin (9/2). Sungai ini merupakan jalur vital yang membatasi wilayah Desa Jetis (Baki, Sukoharjo) dengan Desa Teloyo (Wonosari, Klaten).
Aksi ini difokuskan pada dua titik krusial: pembersihan tumpukan rumpun bambu yang menyumbat kolong jembatan serta evakuasi gunungan sampah di belakang Pasar Daleman dan Pasar Babadan. Kondisi sedimen dan sampah tersebut dikeluhkan warga karena memicu bau tak sedap dan berpotensi menghambat arus sungai menuju Bengawan Solo.
- Trek Kawah Wayang Pengalengan Cocok untuk Penggila MTB
- Es Krim Jamu Inovasi Tim KKN UMBY Lawan Stunting
Ketua Forum Relawan Bencana Korwil Baki, Maryanto, menyebutkan lebih dari 100 personel gabungan diterjunkan dalam aksi ini. Mereka berasal dari BBWS Bengawan Solo, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), TNI, Polri, serta berbagai organisasi relawan.
"Sasaran utama kami adalah memotong bambu yang menyumbat aliran di bawah jembatan serta mengevakuasi sampah pasar. DLH Sukoharjo telah mengerahkan armada angkut, sementara BPBD dan Pemdes Jetis mendukung penuh kebutuhan logistik personel," terang Maryanto di sela kegiatan.

Selain kendala teknis, Maryanto menyoroti kondisi darurat sampah di belakang Pasar Babadan, Teloyo, Klaten. Kurangnya fasilitas Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di sisi Klaten membuat volume sampah meluap hingga ke bantaran sungai. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Klaten segera mengambil langkah strategis agar pencemaran tidak semakin meluas.
- SPPG Cangkol Fokus Pengolahan Limbah Ramah Lingkungan
- Sahabat Sunarto Terpilih Jadi Ketua PC GP Ansor Wonogiri
Wakil Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo, yang turun langsung memantau kegiatan, mengapresiasi kolaborasi lintas batas tersebut. Ia menilai sinergi antara Kecamatan Baki dan Wonosari ini merupakan model penanganan wilayah perbatasan yang patut direplikasi di tempat lain.
"Ini bukti kerjasama yang baik. Kita menghadapi risiko bencana, dan teorinya sederhana: jika tidak ingin bencana, kita harus siap menghadapinya. Persiapan matang adalah kunci," tegas Eko Sapto.
Pihaknya juga memuji dedikasi relawan Sukoharjo yang dikenal sangat aktif di Jawa Tengah. "Terima kasih kepada para relawan yang selalu siaga dan terus meningkatkan kapasitasnya. 'Sukoharjo Tangguh' bukan sekadar jargon, tapi aksi nyata yang kita lihat hari ini di lapangan," pungkasnya.
