Prof Eko UMS Ajak Hidup Berdampingan dengan Risiko Bencana

Kusumawati - Kamis, 22 Januari 2026 13:55 WIB
Prof. Ir. Eko Setiawan, Ph.D., Guru Besar Bidang Optimasi dan Logistik Program Studi Teknik Industri UMS (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Indonesia berada di jalur Ring of Fire dengan ratusan gunung berapi aktif dan ancaman gempa bumi yang nyata. Menghadapi realitas ini, menghindar dari bencana dianggap sebagai hal yang mustahil. Pilihan paling rasional bagi masyarakat Indonesia saat ini adalah membangun ketangguhan dengan cara hidup berdampingan dengan risiko tersebut.

Pesan kuat ini disampaikan oleh Prof. Ir. Eko Setiawan, Ph.D., Guru Besar Bidang Optimasi dan Logistik Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Dalam Jumpa Pers Pengukuhan Guru Besar bertajuk “Hidup Berdampingan dengan Risiko Bencana: Ikhtiar menuju Masyarakat Tangguh-Bencana”, Senin (19/1), ia menekankan pentingnya strategi matang dalam menghadapi bencana.

Belajar dari Sejarah dan Data

Mengutip filsuf George Santayana, Prof. Eko mengingatkan bahwa mereka yang melupakan masa lalu dikutuk untuk mengulanginya. Ia menyoroti rentetan bencana yang melanda Indonesia, mulai dari letusan dahsyat Krakatau dan Tambora di masa lalu, hingga erupsi Gunung Semeru dan banjir bandang yang baru-baru ini terjadi.

"Data EM-DAT tahun 2024 mencatat ada 393 bencana alam di dunia yang merenggut lebih dari 16 ribu jiwa. Dengan posisi geografis kita, bencana adalah sebuah keniscayaan," ujar Prof. Eko.

Rumus Membangun Ketangguhan

Secara teknis, Prof. Eko menjelaskan bahwa risiko bencana merupakan hasil perkalian antara bahaya dan kerentanan, yang kemudian dibagi dengan kapasitas. Artinya, untuk menekan risiko, masyarakat harus meningkatkan kapasitas dan mengurangi kerentanan.

Untuk mencapai masyarakat yang tangguh (disaster-resilient society), Prof. Eko memaparkan lima dimensi strategis:
* Peningkatan Kesadaran Risiko (Risk Awareness): Menumbuhkan pemahaman masyarakat melalui pendidikan kebencanaan sejak dini.
* Adaptasi Berkelanjutan: Mengintegrasikan mitigasi bencana dengan langkah adaptasi perubahan iklim.

* Teknologi dan Big Data: Memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) dan machine learning untuk pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based).
* Kebijakan Berbasis Risiko: Memastikan setiap perencanaan pembangunan kota atau wilayah sudah mempertimbangkan aspek risiko bencana.
* Modal Sosial dan Agama: Melibatkan komunitas serta organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah untuk memperkuat solidaritas dan edukasi masyarakat.

Peran Pendidikan dan Pengabdian

Sebagai akademisi, Prof. Eko menegaskan bahwa UMS terus berkomitmen melalui riset dan pengabdian masyarakat untuk menciptakan sistem manajemen bencana yang komprehensif—mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, hingga pemulihan pascabencana.

Ia menutup paparannya dengan pesan spiritual, mengajak masyarakat menggunakan akal dan ilmu pengetahuan sebagai instrumen untuk membaca tanda-tanda alam, sesuai dengan pesan dalam Al-Qur'an (QS. Ali Imran: 190-191).

"Masyarakat yang tangguh bukan berarti tidak terkena bencana, melainkan mereka yang memiliki kemampuan untuk segera pulih dan bangkit kembali setelah bencana melanda," pungkasnya.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS