Polres Sukoharjo dan Investor Spanyol Tanam Padi Japonica
SUKOHARJO (Soloaja.co) – Polres Sukoharjo bersama Dinas Pertanian dan Perikanan serta investor asal Spanyol, PT Bio Nusa Lestari, memulai penanaman padi varietas Japonica Tarabas di Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Selasa (10/2). Langkah ini merupakan upaya strategis untuk menekan impor beras premium bagi restoran Jepang dan Korea.
Kapolres Sukoharjo, AKBP Anggaito Hadi Prabowo, menjelaskan bahwa program ini merupakan inisiasi Kapolda Jawa Tengah yang bersinergi dengan Komisi IV DPR RI dan pemerintah daerah.
- FKIP UMS Lahirkan Doktor Baru, Inovasi Media IPAS Profetik
- Sumartono Hadinoto Terpilih Ketua PMI Surakarta
Penuhi Kebutuhan Restoran Tanpa Impor
Selama ini, beras jenis Japonica yang memiliki tekstur pulen dan lengket mayoritas didatangkan dari luar negeri. Dengan budidaya lokal ini, pemerintah berharap ketergantungan impor bisa dikurangi secara signifikan.
"Bahan bakunya asli Indonesia, sehingga nilai tambahnya kembali ke masyarakat dan negara. Saat ini lahan seluas 16 hektare di Bendosari menjadi percontohan awal sebelum diperluas ke wilayah lain," ujar AKBP Anggaito.
Kualitas Tanah Sukoharjo Jadi Keunggulan
Perwakilan investor dari PT Bio Nusa Lestari, Eduardo Castillo, mengungkapkan kekagumannya terhadap kualitas tanah di Sukoharjo. Berdasarkan riset mendalam pada sampel tanah dan air, wilayah ini dinilai paling cocok untuk standar operasional modern yang mereka bawa.
"Kami menggunakan standar internasional, namun seluruh infrastruktur dan tenaga kerja berasal dari lokal. Peran Kapolda sangat besar dalam mengarahkan kami ke lokasi percontohan yang memiliki potensi luar biasa ini," jelas Eduardo.
- CIMB Niaga Resmikan Digital Branch Hybrid di Semarang
- BPKH Serahkan Gedung IEBC, UNS Siapkan Prodi Ekonomi Syariah
Potensi Hasil 7 Ton Per Hektare
Pelaksana Lapangan, Wiku Wicaksana, menambahkan bahwa varietas Japonica Tarabas memiliki usia tanam sekitar 110 hari. Dengan sertifikasi resmi dari Balai Benih Kementerian Pertanian, potensi hasilnya mencapai 7 ton per hektare.
"Pasarnya sudah jelas, yaitu segmen restoran dan rumah tangga premium. Selama ini banyak beras impor dikemas ulang di supermarket, kini kita hadirkan kualitas lokal yang mampu bersaing," kata Wiku.
Sinergi antara Polri, pemerintah, dan investor asing ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Sukoharjo melalui komoditas bernilai jual tinggi.
