Pemkab Sukoharjo Dorong Lintas Sektor Atasi Masalah Petani
SUKOHARJO (Soloaja.co) — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo mendorong pendekatan lintas sektor untuk menangani berbagai kendala teknis yang dihadapi para petani di lapangan. Langkah ini diambil karena produktivitas sektor pertanian tidak hanya bergantung pada ketersediaan air dan alat mesin pertanian (alsintan), melainkan juga ditentukan oleh jaringan listrik hingga strategi pemasaran hasil panen.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo, menegaskan bahwa persoalan pertanian bersifat kompleks dan tidak cukup diselesaikan melalui satu jenis intervensi saja. Selain sistem pengairan, aspek infrastruktur energi, tata kelola irigasi, penanganan pascapanen, hingga rantai pemasaran harus mendapat perhatian secara menyeluruh.
- Gara-gara TikTok Wali Kota Solo, Veronika Lolos Kerja ke Jepang
- 25 Kontingen Royal Ethno Carnival Meriahkan HUT Ke-346 Kartasura
"Pemerintah daerah berkomitmen memastikan seluruh program bantuan, seperti alsintan hingga irigasi perpipaan (IRPOM), dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan hasil panen warga," ungkap Eko Sapto saat melakukan pemantauan pemanfaatan bantuan pertanian di Balai Desa Sukoharjo, Sabtu (10/10/2026).
Sebagai bentuk inovasi untuk meningkatkan intensitas tanam, Pemkab Sukoharjo menyoroti pemanfaatan sumur dalam. Satu titik sumur dalam diperkirakan mampu menyuplai kebutuhan air untuk lahan seluas sekitar 10 hektare. Fasilitas ini diharapkan membantu kawasan pertanian yang sebelumnya terhambat agar dapat merealisasikan target tiga kali masa tanam dan panen dalam setahun (IP 300).
Meski dukungan alsintan seperti rotavator dan combine harvester terus digelontorkan untuk efisiensi, penyediaannya harus diselaraskan dengan kebutuhan riil di lapangan, termasuk ketersediaan energi operasional.
- Siswa SD Muhammadiyah PK Solo Borong 7 Medali di OSMJT 5
- Tiket Konser Twilite Orchestra Beatles dan Queen Laris Manis
Untuk menyerap aspirasi tersebut, Pemkab Sukoharjo mengoptimalkan forum sarasehan petani. Wadah ini berfungsi mengidentifikasi masalah sekaligus menghubungkan kebutuhan para petani dengan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) serta instansi teknis terkait.
Selain fokus pada lahan persawahan, pengembangan pertanian pekarangan atau urban farming juga terus digenjot. Salah satu potensi yang dilirik adalah budidaya lidah buaya yang membutuhkan pendampingan pemasaran agar produk yang dihasilkan terserap pasar secara optimal.
"Kami menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi dari seluruh pihak, mulai dari kelompok tani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), hingga lintas dinas. Kerja sama ini menjadi kunci utama dalam mewujudkan semangat 'Pertanian Sukoharjo Solid, Sinergi, Sukses' demi meningkatkan kesejahteraan petani daerah," pungkas Eko Sapto.
