Nguri-uri Tradisi, Bupati Boyolali Ikuti Prosesi Buka Luwur Makam Pantaran
BOYOLALI (Soloaja.co) — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali melalui Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Boyolali kembali menggelar tradisi tahunan Buka Luwur Makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi pada Jumat (10/7) pagi.
Agenda budaya yang dipusatkan di Kompleks Makam Pantaran, Desa Candisari, Kecamatan Gladagsari ini diproyeksikan untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata religi dan alam unggulan daerah.
Acara sakral yang rutin diselenggarakan setiap hari Jumat minggu ketiga bulan Muharam atau Sura ini dihadiri langsung oleh Bupati Boyolali Agus Irawan, jajaran Forkopimda Kabupaten Boyolali, serta para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Boyolali.
- Kunker Spesifik Komisi IV DPR-RI di Klaten: Stok Beras Cetak Rekor Sejarah
- Program #SungaiLestari Diluncurkan, Solo Jadi Pilot Project Nasional
Prosesi Buka Luwur diawali dengan kirab khidmat mengarak *luwur* (kain mori penutup makam), *songsong* (payung kebesaran), bunga, serta sesaji dengan pengawalan dari Pasukan Keraton Kasunanan Surakarta. Di barisan belakang kirab, enam buah gunungan berisi hasil bumi diarak untuk kemudian diperebutkan oleh masyarakat sebagai simbol pencarian berkah dan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
Setibanya di area makam, pemimpin kirab menyerahkan kain luwur kepada Bupati Boyolali Agus Irawan untuk diteruskan kepada juru kunci makam. Prosesi serupa dilakukan untuk songsong yang diserahkan oleh Kapolres Boyolali AKBP Indra Maulana Saputra, serta penyerahan bunga oleh Dandim 0724/Boyolali Gunawan Nurbathin.
Selanjutnya, Bupati beserta jajaran Forkopimda melaksanakan ritual inti penggantian kain luwur di makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi, diikuti dengan prosesi tabur bunga.
- Rebranding: SD Muhammadiyah PK Solo Luncurkan Tagline Baru
- Deretan Bisnis Wilmar Group, Ini Pohon Usaha Lengkapnya
Bupati Boyolali, Agus Irawan, menegaskan bahwa agenda tahunan ini merupakan langkah nyata pemerintah bersama masyarakat dalam merawat warisan sejarah. Selain Syech Maulana Ibrahim Maghribi, Kompleks Makam Pantaran juga menjadi tempat persemayaman para tokoh leluhur seperti Dewi Nawangwulan, Ki Ageng Pantaran, Ki Ageng Mataram, dan Ki Ageng Kebo Kanigoro.
"Acara ini adalah bentuk *nguri-uri* tradisi yang harus kita wariskan kepada generasi penerus. Tradisi ini juga menjadi bentuk terima kasih dan rasa syukur atas perjuangan para leluhur yang telah menerapkan banyak ilmu untuk menata Boyolali hingga maju seperti saat ini," ujar Bupati Agus Irawan usai prosesi ritual.
Sejalan dengan arahan Bupati, Plt. Kepala Disporapar Kabupaten Boyolali, Candra Irawan, menyampaikan komitmennya untuk mengangkat potensi wisata di kawasan Candisari agar memiliki dampak ekonomi yang lebih luas melalui sektor pariwisata terpadu.
"Ke depan, kami akan menginventarisir beberapa objek religi dan alam di Candisari untuk diproyeksikan menjadi destinasi wisata unggulan daerah. Kami akan mengemas perpaduan potensi alam, religi, hingga *sport tourism* agar menjadi kalender acara tahunan yang teragenda dengan lebih baik lagi," jelas Candra.
- 8 Aksi Warga Bangun Infrastruktur Sendiri, dari Jalan hingga Jembatan
- JAECOO Resmikan Dealer S3 Sun Solo di Kartasura, Rebut Pasar Mobil Listrik 10%
Keunikan rangkaian tradisi di kawasan Pantaran ini sebenarnya sudah dimulai sejak Kamis (9/7) sore melalui prosesi Sedekah Tuk Tempuran. Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Boyolali, Harnowo, menjelaskan bahwa ritual tersebut digelar oleh masyarakat yang memanfaatkan aliran mata air Sipendok dan Simuncar.
"Masyarakat berkumpul di tempuran—lokasi bertemunya dua mata air—dengan menggelar kenduri tumpeng dan ingkung ayam. Tujuannya adalah *memetri tuk* atau menguri-uri sumber mata air. Ini menjadi sugesti positif bagi warga agar senantiasa menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup demi kelangsungan hidup anak cucu kelak," pungkas Harnowo.
Melalui penyelenggaraan event budaya yang kuat dan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan, Pemkab Boyolali optimistis Kompleks Makam Pantaran mampu menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara sekaligus memperkuat identitas Boyolali sebagai daerah yang kaya akan nilai historis dan budaya.
