Meriah! Grebeg Sudiro 2026: Akulturasi Budaya Jawa-Tionghoa
SOLO (Soloaja.co) – Kawasan Pasar Gede dan Kampung Sudiroprajan mendadak jadi lautan manusia pada Minggu (15/2/2026). Puncak perayaan Grebeg Sudiro 2026 sukses digelar dengan menyuguhkan harmoni budaya yang luar biasa antara etnis Jawa dan Tionghoa.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, yang hadir langsung dalam acara tersebut menegaskan bahwa festival ini adalah potret nyata toleransi di Kota Solo. Tak hanya pemkot, pemerintah pusat melalui Direktur Utama BKMA Kementerian Kebudayaan, Sjamsul Hadi, juga turut hadir memberikan dukungan penuh.
- Erick Thohir: PPPI Delingan Terbaik di Asia Tenggara
- Doktor Baru UMS Ciptakan Buku Pancasila Perkuat Kebhinekaan
"Grebeg Sudiro bukan sekadar pesta rakyat biasa, ini simbol sejati akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang terjalin harmonis. Di sini kue keranjang bersanding dengan gunungan," ujar Astrid dalam sambutannya.
Masuk Daftar Kharisma Event Nusantara 2026
Tahun ini, Grebeg Sudiro kembali mengukuhkan posisinya sebagai agenda wisata kelas nasional dengan masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026. Hal ini membuktikan bahwa tradisi lokal Sudiroprajan mampu menjadi magnet pariwisata sekaligus penggerak ekonomi UMKM di Solo.

Kemeriahan Kirab: Barongsai Bertemu Reog
Suasana kirab budaya berlangsung sangat meriah. Ribuan warga memadati rute kirab untuk menyaksikan rangkaian acara yang ikonik:
* Defile Budaya: Dibuka dengan penampilan anggun cucuk lampah penari sendratari.
* Atraksi Shio: Klenteng Tien Kok Sie menghadirkan atraksi 12 Shio yang sarat makna.
* Liong Macan Putih: Liukan naga yang dinamis berhasil memukau penonton di sepanjang jalan.
* Simbol Keberkahan: Acara ditutup dengan tradisi rebutan gunungan hasil bumi dan pembagian ribuan kue keranjang.
Bagi masyarakat Solo, momen rebutan ini bukan sekadar berebut makanan, melainkan simbol kebersamaan dan harapan akan keberkahan di tahun yang baru.
Grebeg Sudiro kini bukan lagi sekadar perayaan Imlek tingkat kampung, melainkan ruang perjumpaan lintas budaya yang menjaga Solo tetap harmonis dan inklusif bagi siapa saja.
