Kisah Nur Rahman: Taklukkan Lelah demi Prestasi

Kusumawati - Sabtu, 16 Mei 2026 09:55 WIB
Kontingen Atlet Tapak Suci dari Universitas Muhammadiyah Sorong: Nur Rahman (kiri), Sanjung Sederhana (kanan) dan Rizkya Eka Bunga Aldilah Maateka (tengah) (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Jarak ribuan kilometer dari Indonesia Timur tidak menjadi penghalang bagi Nur Rahman untuk menorehkan prestasi. Atlet Tapak Suci asal Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) ini tetap menunjukkan semangat membara dalam cabang olahraga pencak silat pada ajang *The 1st Muhammadiyah Games 2026* yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Datang bersama dua rekannya, Sanjung Sederhana dan Rizkya Eka Bunga Aldilah Maateka, serta didampingi sang pembina, Wahyudi, perjalanan ini menjadi bukti nyata dedikasi mereka yang luar biasa terhadap dunia bela diri.

Kecintaan Sejak Dini dan Tantangan Fisik

Rahman menceritakan bahwa kecintaannya pada Tapak Suci sudah tumbuh sejak ia duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Kiprahnya di dunia kompetisi mulai matang saat ia melanjutkan pendidikan di sekolah Muhammadiyah.

“Saya mulai ikut Tapak Suci sejak kelas lima SD. Waktu SMP baru masuk sekolah Muhammadiyah dan mulai ikut tanding,” kenang Rahman, Sabtu (16/5).

Namun, perjalanan menuju arena pertandingan di Surakarta bukanlah hal yang mudah. Berangkat dari Sorong, rombongan UNAMIN menghadapi tantangan fisik yang luar biasa akibat perjalanan panjang yang menguras energi. Mereka baru tiba di penginapan pada Kamis (14/5) dini hari.

“Tantangan terbesar ya perjalanan kita. Sampai sini fisik sudah lemas karena baru tadi malam sampai. Sampai penginapan jam satu malam, pagi langsung timbang. Jadi kita main memang kurang fit,” ungkapnya jujur.

Minim Fasilitas, Menang di Mental dan Fisik

Selain kelelahan fisik, Rahman juga menyoroti ketimpangan fasilitas latihan antara Pulau Jawa dan Indonesia Timur. Atlet di Papua harus merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk mendapatkan perlengkapan latihan standar yang harus dikirim dari Jawa.

* Harga Matras: Kisaran Rp250.000 per lembar (belum termasuk ongkos kargo yang bisa mencapai belasan juta rupiah).
* Biaya Transportasi: Tiket pesawat mencapai sekitar Rp4.000.000 per orang untuk sekali jalan.

Meski demikian, keterbatasan ini tidak membuat nyali Rahman ciut. Jam terbangnya sudah teruji di berbagai ajang, mulai dari kejuaraan dunia pencak silat di Malang, juara satu di *Makassar Championship*, hingga menyabet medali emas di Pomprov Papua Barat Daya.

“Kalau teknik kita mungkin masih tertinggal dibanding di Jawa. Tapi kalau fisik sama mental, insyaallah kita bisa menang,” tegas Rahman penuh optimisme.

Melalui ajang *The 1st Muhammadiyah Games* ini, Rahman berharap perjuangannya dapat melecut motivasi para atlet muda di daerah agar tetap percaya diri berkompetisi di tingkat nasional.

“Motivasi terbesar saya ingin juara di sini untuk membanggakan kampus dan teman-teman saya di sana,” pungkasnya.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS