Karaton Surakarta Tradisi Ganti Singep Pesarean Sinuhun Sri Makurung Pengging

Kusumawati - Minggu, 05 Juli 2026 17:25 WIB
Keraton Surakarta di pimpin GKR Wandansarielakukan tradisi ganti singep dan payung pasarean Sri Makurung Handayaningrat di Pengging Boyolali (Soloaja)

BOYOLALI (Soloaja.co) – Keraton Surakarta Hadiningrat kembali meneguhkan perannya sebagai penjaga api tradisi Jawa. Melalui upacara adat ganti singep (kain penutup makam) dan song-song (payung kebesaran), pihak keraton menggelar prosesi khidmat di Pesarean Sinuhun Sri Makurung Handayaningrat, Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Sabtu (4/7/2026) malam.

Ritual tahunan yang telah berjalan konsisten selama lebih dari dua dekade ini bukan sekadar rutinitas spiritual. Bagi keluarga besar keraton, agenda ini merupakan jembatan historis yang menghubungkan generasi masa kini dengan fondasi awal Dinasti Mataram, yang akar kesejarahannya merentang hingga era akhir Majapahit.

Pengageng Sasana Wilapa Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari, M.Pd., atau yang akrab disapa Gusti Moeng, membenarkan bahwa upacara ini sudah menjadi agenda wajib selama 20 tahun terakhir. Sebagai Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), ia melihat ada perkembangan positif dari tahun ke tahun, terutama terkait sinergi dengan pemerintah daerah.

"Kegiatan ini kami laksanakan secara rutin setiap tahun. Alhamdulillah, sekarang sudah masuk dalam kalender event Kecamatan Banyudono, dan dalam tiga tahun terakhir ini juga mulai mendapat dukungan resmi dari Pemerintah Kabupaten Boyolali," urai Gusti Moeng dalam rilis persnya, Minggu (5/7/2026).

Penghormatan terhadap Akar Dinasti

Gusti Moeng memaparkan bahwa esensi dari penggantian singep dan song-song ini adalah wujud bakti dan pemeliharaan moral terhadap situs sejarah leluhur. Berdasarkan naskah-naskah kuno yang disimpan keraton, tradisi ziarah ke makam para pendahulu ini sudah dirawat sejak zaman pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono XII.

Selain di Pengging, rute ziarah tahunan keraton tersebar di berbagai wilayah penting seperti Pati, Grobogan, Ponorogo, hingga Tegalarum. Semua lokasi tersebut memegang peran krusial dalam perjalanan panjang spiritualitas dan politik wangsa Mataram.

Pengging sendiri, menurut Gusti Moeng, memiliki posisi tawar yang kuat dalam kronik sejarah Jawa. Wilayah ini sudah memiliki sistem pemerintahan berupa kadipaten sejak zaman Majapahit, jauh sebelum Kerajaan Pajang berdiri. Tokoh Sri Makurung Handayaningrat inilah yang menjadi motor penggerak awal di wilayah tersebut.

Mata Rantai Silsilah Raja Jawa

Mengulas balik lembar sejarah, Sinuhun Sri Makurung Handayaningrat awalnya dikenal dengan nama Jaka Sengara. Ia merupakan putra dari pasangan Harya Pandaya III dan Dyah Retna Mundri yang hidup di masa transisi runtuhnya Majapahit menuju fajar Kesultanan Demak pada akhir abad ke-15.

Jaka Sengara mendapat anugerah gelar Sri Makurung Handayaningrat dan hak memimpin Pengging setelah berhasil menyelamatkan putri Raja Majapahit, Ratu Ratna Pembayun, dari penculikan Adipati Menak Daliputih asal Blambangan. Keduanya kemudian dinikahkan dan menurunkan tiga putra, yaitu Kebo Kanigara, Kebo Kenanga, dan Kebo Amiluhur.

Dari garis keturunan Kebo Kenanga, lahirlah Jaka Tingkir yang kelak bergelar Sultan Hadiwijaya, sang pendiri Kerajaan Pajang. Dari trah Pajang inilah estafet kepemimpinan berlanjut hingga melahirkan Dinasti Mataram Islam, yang di kemudian hari pecah menjadi Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.

Meskipun Sri Makurung Handayaningrat dikabarkan gugur dalam pertempuran sengit melawan pasukan Demak yang dipimpin Sunan Ngudung, garis keturunannya terbukti menjadi penguasa tanah Jawa di era-era berikutnya.

Hingga saat ini, kompleks makam kuno di Dukuh Malangan tersebut tetap menjadi pusat perhatian budaya. Prosesi ganti singep yang diisi dengan doa bersama dan ziarah sentana dalem diharapkan mampu menjadi media edukasi bagi generasi muda agar tidak kehilangan kompas sejarah dan tetap menghargai warisan peradaban Nusantara.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS