Gula Aren Pacitan Tembus Pasar Belanda hingga Australia
JAKARTA (Soloaja.co) — Produk perkebunan rakyat kembali unjuk gigi di kancah internasional. Pekebun gula aren organik asal Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, sukses melakukan ekspor ke tiga negara sekaligus, yakni Belanda, Malaysia, dan Australia pada pertengahan Februari 2026.
Melalui CV Temon Agro Lestari dari Desa Temon, Kecamatan Arjosari, para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Akur X mengirimkan total 1 ton ke Belanda, 10 ton ke Malaysia, dan 500 kilogram ke Australia. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa produk olahan petani lokal memiliki daya saing global yang tinggi.
- Mahasiswa DKV ISI Surakarta Juara Youth Paper Challenge UGM
- Perkuat Nilai Kemanusiaan, UNS Teken MoU Dengan Komnas HAM
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengapresiasi pencapaian ini sebagai keberhasilan program hilirisasi dan sertifikasi produk perkebunan.
“Kementerian Pertanian terus mendorong pengembangan desa ekspor agar nilai tambah dan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan langsung oleh petani,” ujar Mentan Amran dalam rilis resmi Kementan RI, Senin (16/2/2026).
Dampak Sertifikasi: Harga Naik 50 Persen
Kesuksesan ekspor ini tidak lepas dari Program Desa Pertanian Organik yang diinisiasi oleh Ditjen Perkebunan. Melalui pendampingan intensif, para pekebun kini mampu memproduksi pupuk kompos mandiri dan mengelola lahan secara berkelanjutan.
- Puasa Tetap Irit, Ini 5 Tips untuk Anak Kos
- BPVP Gandeng BPJS Ketenagakerjaan Lindungi Peserta Pelatihan
Berikut adalah dampak signifikan dari program sertifikasi organik tersebut:
* Luas Lahan: 15,66 hektare lahan aren telah tersertifikasi organik.
* Kapasitas Produksi: Berpotensi menghasilkan sekitar 18 ton per tahun.
* Nilai Ekonomi: Harga jual melonjak dari Rp20.000 menjadi Rp30.000 per kilogram dibandingkan produk konvensional.
Sinergi Menuju Petani "Naik Kelas"
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menegaskan bahwa pihaknya akan terus memperluas pembinaan kepada kelompok tani lainnya. Fokus utama adalah memperkuat kemitraan dengan sektor swasta untuk memastikan akses pasar ekspor tetap terbuka lebar.
“Pendampingan berkelanjutan telah meningkatkan kualitas dan nilai jual produk. Ke depan, kami ingin semakin banyak pekebun yang naik kelas dan berorientasi ekspor,” pungkas Abdul Roni.
