FSRD UNS Kenalkan Wayang Kulit ke Anak-Anak Sleman

Kusumawati - Senin, 29 Juni 2026 20:26 WIB
FSRD UNS gelar Workshop wayang di Condong Catur Sleman (Soloaja)

SLEMAN (Soloaja.co) — Derasnya arus budaya global dan teknologi digital tidak menyurutkan langkah para akademisi untuk membumikan budaya lokal kepada generasi muda. Langkah nyata ini ditunjukkan oleh Research Group (HGR) Penciptaan Seni Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Mereka menggelar workshop seni rupa berbasis wayang kulit kisah Mahabharata di Padukuhan Cepit, Kalurahan Condongcatur, Sleman, DIY pada Minggu (28/6).

Kegiatan pengabdian masyarakat ini menyasar sekitar 50 anak-anak setempat. Menariknya, anak-anak tidak hanya duduk mendengarkan dongeng, tetapi diajak berinteraksi langsung: memegang fisik wayang kulit hingga mengeksplorasi kreativitas lewat praktik mewarnai tokoh-tokoh pewayangan.

Ketua Pengabdian, Dr. Sn. Dona Prawita Arissuta, S.Sn., M.Hum., menjelaskan bahwa lewat pendekatan seni rupa yang menyenangkan, anak-anak bisa membangun kedekatan dengan budaya mereka sejak dini.

"Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal wayang sebagai tontonan, tetapi juga memahami nilai budaya di dalamnya. Wayang adalah sumber inspirasi kaya untuk seni rupa sekaligus media menanamkan kecintaan pada warisan bangsa," ujar Dona.

Belajar Karakter Lewat Tokoh Mahabharata

Pihak FSRD UNS menggandeng Anang Suwondo dari Sanggar Joglo Kinasih sebagai narasumber. Praktisi wayang ini mengenalkan karakter, filosofi, dan nilai kehidupan para tokoh Mahabharata secara interaktif. Menurut Anang, setiap tokoh menyimpan bekal berharga untuk pembentukan karakter anak.

Hal senada diungkapkan oleh anggota tim dosen, Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn. Ia menekankan bahwa seni rupa menjadi jembatan yang efektif untuk menyederhanakan nilai-nilai luhur tersebut.

"Setiap tokoh memiliki karakter yang dapat menjadi teladan nilai kejujuran, keberanian, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Lewat seni rupa, nilai ini jadi lebih menarik dan mudah dipahami anak-anak," kata Dyah Yuni.

Antusiasme Tinggi Generasi Muda

Selama proses mewarnai, anak-anak didampingi langsung oleh tim dosen, termasuk Fika Khoiru Nisa, S.Pd., M.Sn. Fika mengaku tidak kesulitan mengarahkan para peserta karena mereka menyerap materi dengan penuh kegembiraan.

Pengalaman langsung ini membekas kuat bagi para peserta. Ratu, salah satu anak yang ikut serta, mengaku sangat senang karena akhirnya bisa menyentuh langsung figur yang biasanya hanya ia lihat di lembar buku sekolah.

"Selama ini saya hanya melihat wayang di buku pelajaran Bahasa Jawa. Sekarang saya bisa memegang langsung, mengenal tokohnya, dan mewarnai. Senang sekali," tutur Ratu riang.

Melalui sinergi antara akademisi, praktisi, dan masyarakat ini, HGR Penciptaan Seni FSRD UNS berharap workshop ini bisa memantik kesadaran kolektif untuk menjaga wayang sebagai warisan budaya dunia, sekaligus membentengi generasi muda dengan karakter yang kuat. Kegiatan interaktif ini pun diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen pelestarian budaya yang berkelanjutan.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS