FIB UNS Latih Komunitas Gunungkidul Bikin Kain Shibori

Kusumawati - Kamis, 18 Juni 2026 18:46 WIB
RG Sejarah Kebudayaan Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret di Gunungkidul (Soloaja)

GUNUNGKIDUL (Soloaja.co) — Research Group (RG) Sejarah Kebudayaan Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menggelar pengabdian masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kali ini, mereka menyelenggarakan Workshop Pembuatan Kain Shibori bagi komunitas Sanggar Seni Tresna Budaya di Kelurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (11/6/2026).

Kegiatan ini merupakan kelanjutan kerja sama setelah sebelumnya sukses mengadakan pelatihan ecoprint. Tim RG Sejarah Kebudayaan FIB UNS yang diterjunkan terdiri atas Dr. Yusana Sasanti Dadtun, Dr. Asti Kurniawati, Drs. Tundjung Wahadi Sutirta, Dr. Hayu Adi Darmarastri, dan Dr. Supariadi. Guna memaksimalkan pelatihan, mereka menghadirkan pakar kriya tekstil Dr. Dyah Yuni Kurniawati dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS sebagai instruktur.

Perwakilan tim UNS, Drs. Tundjung Wahadi Sutirta, M.Si., berharap keterampilan baru ini bisa menjadi modal berharga bagi warga.
“Melalui pelatihan shibori ini, kami berharap masyarakat memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi produk unggulan sehingga mampu meningkatkan nilai ekonomi keluarga dan komunitas,” ujarnya.

Eksperimen Motif Unik dan Tak Terduga

Dalam sesi praktik, Dr. Dyah Yuni Kurniawati membimbing peserta melalui beberapa tahapan krusial, mulai dari pembersihan kain dari zat kimia, teknik pelipatan dan pengikatan khas Jepang, pencelupan warna, hingga proses fiksasi agar warna tidak luntur.

Momen membuka ikatan kain menjadi sesi yang paling dinanti. Karena sifat teknik shibori yang eksperimental, setiap lembar kain menghasilkan pola motif yang berbeda, unik, dan tidak dapat ditiru secara persis. Hal ini memicu antusiasme tinggi dari para anggota sanggar.

Pengelola Sanggar Seni Tresna Budaya, Sugiyono, serta salah satu peserta, Sutini, mengaku sangat bersyukur atas pendampingan telaten dari tim UNS. Keduanya berharap ilmu kriya ini bisa memajukan produktivitas sanggar ke depan.

Dibekali Strategi Hitung HPP dan BEP

Tak berhenti pada aspek produksi, para peserta juga dibekali dengan materi kewirausahaan di akhir sesi. Dr. Dyah memaparkan cara menyusun *blueprint* usaha, menghitung Harga Pokok Produksi (HPP), menentukan *Break Even Point* (BEP), hingga strategi menetapkan harga jual di pasar.

Menurut Dr. Dyah, kemampuan teknis membuat produk kreatif harus berjalan beriringan dengan manajemen bisnis yang sehat.
"Masyarakat juga perlu memahami cara menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual yang wajar agar usaha yang dijalankan dapat memberikan keuntungan dan berkembang secara berkelanjutan," pungkasnya.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS