Ekonom UMS: RI Hadapi Tekanan Berat 2026 Soal Inflasi

Kusumawati - Senin, 05 Januari 2026 10:42 WIB
Ekonom UMS Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) - Ekonom Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., memprediksi perekonomian Indonesia pada awal 2026 masih menghadapi tekanan berat. Kondisi ini merupakan kelanjutan dari perlambatan ekonomi sepanjang 2025, dipengaruhi oleh melambatnya ekonomi global dan dinamika geopolitik internasional.

Menurut Prof. Anton, perlambatan global ini turut menahan pertumbuhan ekonomi nasional. Hingga akhir 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan hanya mencapai kisaran 5 persen, jauh dari target ideal 8 persen.

Distribusi Pangan Penyebab Inflasi

Selain perlambatan, isu inflasi juga menjadi perhatian utama. Meskipun Bank Indonesia (BI) menggunakan instrumen suku bunga untuk kebijakan moneter, Prof. Anton menilai akar persoalan inflasi di Indonesia lebih kompleks.

"Penyebab inflasi di Indonesia itu lebih banyak disebabkan karena masalah pada distribusi," ujar Prof. Anton. Ia menjelaskan, terdapat pihak tertentu yang memiliki akses ke komoditas pangan yang sengaja menahan pasokan (supply) untuk memicu kenaikan harga seiring meningkatnya permintaan, terutama menjelang momen hari besar. Selain itu, perubahan iklim yang menyebabkan gagal panen juga berkontribusi.

Prof. Anton menegaskan, manajemen rantai pasok komoditas pangan seharusnya menjadi fokus utama pemerintah. Ia menyoroti adanya kelompok tertentu dalam rantai pasok yang memiliki kekuatan berbeda-beda untuk memainkan harga, diperburuk dengan lemahnya kontrol pemerintah dan ketersediaan data.

Kelas Berpenghasilan Tetap Paling Rentan
Prof. Anton menyebut, masyarakat berpenghasilan tetap, baik dari kelompok bawah maupun menengah, adalah yang paling terdampak inflasi. “Dengan harga yang naik, mereka tidak bisa melakukan adjustment atau penyesuaian,” jelasnya.

Inflasi berdampak pada penurunan daya beli, mengurangi alokasi dana untuk menabung dan berinvestasi, serta membatasi konsumsi hanya pada kebutuhan pokok. Untuk menghadapi kondisi ini, masyarakat diimbau menjadi konsumen yang cerdas dan rasional dalam menentukan prioritas konsumsi.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS