Antusiasme dan Doa Restu Warga Sambut Kirab Dhaup Ageng
SOLO (Soloaja.co) – Rangkaian Pahargyan Dhaup Ageng Mangkunegaran menghadirkan momen perjumpaan antara keluarga Pura Mangkunegaran dan masyarakat melalui prosesi Kirab Pengantin, Sabtu sore. G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas tampil untuk pertama kalinya di hadapan publik sebagai pasangan suami istri.
Ratusan warga memadati kawasan Pamedan hingga sepanjang rute kirab untuk menyambut, melambaikan tangan, serta memberikan doa restu kepada kedua mempelai. Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, menyatakan bahwa kirab ini dirancang untuk menghubungkan hajat keluarga dengan masyarakat luas sekaligus merawat warisan tradisi.
- 2000 Lowongan Hadir di GSI Youth 2026 di GOR Indoor Manahan
- 495 Pelajar Ikuti Competisi Robotika IRC IV di Sukoharjo
Kirab menghubungkan hajat keluarga dengan masyarakat di sekitarnya. Susunan iring-iringan, busana, dan tata lakunya merupakan bagian dari tradisi yang kami jaga agar tetap hidup, ujar Ayu Rosetyastuti.
Nuansa Tradisi dan Rute Kirab di Ruang Kota
Dalam prosesi tersebut, Gusti Sura dan Kanjeng Dimas menaiki kereta Glasslandauer yang ditarik oleh empat ekor kuda. Iring-iringan pengantin turut dikawal oleh korps musik, panji-panji Mangkunegaran, barisan bregada, pasukan berkuda Ladrang Mangungkung, hingga kelompok niyaga dan barisan pangombyong.
Rute kirab diberangkatkan dari gerbang selatan Pura Mangkunegaran, kemudian melintasi Jalan Ronggowarsito, Jalan Prof. Dr. Supomo, Jalan Slamet Riyadi, kawasan Pasar Pon, Ngarsopuro, serta Jalan Diponegoro sebelum kembali masuk ke dalam Pura Mangkunegaran. Kehadiran atribut busana Kasatriyan, gamelan, dan barisan pengawal membawa tata cara adat Mangkunegaran menyapa langsung aktivitas harian warga Kota Solo.
- 12 Ribu Guru Muhammadiyah Jateng Hadiri Silaturahmi Akbar
- Golek Montro dan Bedhaya Soerya Soemirat Mengiringi Sakralnya Dhaup Ageng
Antusiasme dan Doa Restu Warga
Kehadiran iring-iringan disambut hangat oleh warga dari berbagai wilayah. Yuliati, warga Keprabon yang bermukim di dekat Pura Mangkunegaran, mengungkapkan kebahagiaannya bisa menyaksikan langsung momen bersejarah tersebut.
Istilah Jawanya, kami mangayubagya. Kami ikut berbahagia atas Dhaup Ageng ini, tutur Yuliati.
Pandangan serupa disampaikan oleh Titik, warga Gedangan, Solo Baru, yang menilai bahwa acara kirab memberikan ruang bagi publik untuk mengenal lebih dekat figur pengantin serta tradisi yang dilestarikan oleh Pura Mangkunegaran. Melalui perjumpaan di sepanjang jalan serta panggung Mangayubagyo di Pamedan, keluarga Mangkunegaran membagikan kebahagiaan dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam perayaan adat tersebut.
