Rayakan Hari Tari Dunia, Mugiyono Kasido Tampil di Kota Klaten dan Sukoharjo
SUKOHARJO (Soloaja.co) – Maestro tari internasional, Mugiyono Kasido, dipastikan akan turun gunung meramaikan peringatan Hari Tari Dunia di dua wilayah, yakni Sukoharjo dan Klaten. Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan nyata bagi komunitas tari akar rumput serta kelompok seni lokal di kedua daerah tersebut.
Bagi seniman yang akrab disapa Mbah Mugi ini, Sukoharjo dan Klaten bukan sekadar panggung biasa. Kedua kota ini memiliki ikatan emosional yang mendalam. Sukoharjo merupakan basis bagi sanggarnya, Mugidance, sementara Klaten adalah tanah kelahiran tempat ia menghabiskan masa kecilnya.
- Menkomdigi Ajak Wisudawan Telkom University Jaga Ruang Digital
- Viral Soto SSB Buka Lowongan AI Engineer, Ini Peran dan Tugasnya
"Di Sukoharjo, saya akan membawa tari Topeng Panji yang dipadukan dengan sarung Goyor produk handmade," ujar pemegang rekor Muri menari 36 jam nonstop tersebut. Karya solois terbaru ini sengaja disiapkan untuk memberi warna beda pada perayaan tahun ini.
Penampilan di Sukoharjo dijadwalkan berlangsung malam ini, Rabu (29/4), pukul 20.00 WIB bertempat di Taman Budaya Suryani. Acara ini diinisiasi oleh paguyuban sanggar tari setempat yang ingin menghidupkan kembali gairah tari di tingkat kabupaten.
Pentas Sesaji di Candi Sewu
Usai dari Sukoharjo, penari yang telah melanglang buana ke lebih dari 20 negara ini akan bergeser ke Klaten pada Minggu (3/5) mendatang. Di sana, Mbah Mugi akan tampil dalam pembukaan perayaan Hari Tari Dunia sebagai penari sesaji.
- Tips Kelola Gaji Rp2 Juta Biar Finansial Tetap Aman
- Kelas Investasi Ilegal oleh Finfluencer Siap-Siap Kena Sanksi
Lokasi pementasan dipusatkan di kawasan Candi Sewu, kompleks Prambanan. Pemilihan tempat ini dianggap sakral dan representatif untuk menggambarkan kekuatan tradisi tari di wilayah Klaten.
Mugiyono memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pengelola sanggar di daerah yang tetap konsisten menjaga marwah tari dunia. Menurutnya, inisiatif kolektif dari komunitas lokal adalah kunci keberlanjutan ekosistem seni pertunjukan di Indonesia.
