Bedhaya Anglir Mendhung: Tarian Sakral Pengundang Hujan
SOLO (Soloaja.co) – Alunan gamelan dan gerak gemulai tujuh penari dalam balutan busana tradisional menghidupkan suasana khidmat di Ndalem Ageng Pura Mangkunegaran, Selasa (27/1/2026). Tari Bedhaya Anglir Mendhung secara khusus dipentaskan untuk mengiringi peringatan kenaikan takhta atau Tingalan Jumenengan ke-4 KGPAA Mangkunegara X.
Pementasan dimulai sesaat setelah Mangkunegara X yang mengenakan busana hitam menempati singgasananya. Uniknya, sebelum para penari muncul dari Paringgitan, prosesi diawali dengan pembacaan surah Al-Fatihah, menambah nuansa religius di tengah ritual adat tersebut.
Bahkan selama prosesi tari berlangsung selama 45 menit, audiens dilarang ngobrol, dilarang beranjak dari tempat duduk kalau ada yang berdiri diminta duduk bersimpuh, dilarang mengambil foto dan video, tercipta suasana hening dan sakral ditambah asap dupa dan wangi bunga yang mengiringi tarian.
- Senkom Wonogiri Dikukuhkan, Kardi Fokus Teknologi Informasi
- Gempa Beruntun, Kapolres Sukoharjo Gelar Apel Siaga Bencana
Pusaka Hidup yang Sarat Tirakat
Bedhaya Anglir Mendhung bukanlah tarian sembarangan. Sebagai tarian pusaka Mangkunegaran, kesakralannya dijaga ketat melalui pakem dan tirakat para penarinya. Sebelum hari H, ketujuh penari wajib menjalankan ritual puasa, meditasi, hingga berziarah ke makam para leluhur di Astana Mangadheg, Astana Girilayu, dan Astana Oetara.
Berbeda dengan tari bedhaya di keraton lain yang kerap dikaitkan dengan mitos Ratu Kidul, Bedhaya Anglir Mendhung justru murni merekam jejak sejarah perjuangan. Tarian ini mengisahkan kegigihan KGPAA Mangkunegara I (Raden Mas Said) saat menghadapi konflik politik di Ponorogo melawan Belanda dan Pangeran Mangkubumi.
Filosofi "Awan Tebal" dan Mukjizat RM Said
Nama "Anglir Mendhung" memiliki arti "Bagaikan Awan Mendung". Nama ini berakar dari kisah ajaib saat Raden Mas Said sedang beristirahat di bawah pohon. Di tengah badai angin kencang dan hujan lebat yang menyerupai awan tebal, tubuh Sang Pangeran secara ajaib tetap kering dan tidak terkena setetes air pun.
Fenomena inilah yang melahirkan keyakinan bahwa tarian ini memiliki kekuatan religio-magis, termasuk dipercaya mampu mendatangkan hujan.
- Jumenengan Ke-4 Mangkunegara X, Gelar untuk 18 Tokoh
- Gempa Dua Kali Guncang Jawa, 17 Kereta Api Sempat Berhenti
"Tarian ini memuat simbol perjuangan, persahabatan, dan nilai religio-magis pendiri istana. Sempat menghilang, tarian ini berhasil direkonstruksi kembali pada 1981 sebagai upaya pemulihan identitas budaya Mangkunegaran," tulis akun resmi @puromangkunegaran.
Adaptasi Visi Mangkunegaran
Ketua Pelaksana, G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo, menyampaikan bahwa kehadiran tarian ini merupakan bagian tak terpisahkan dari ritual rutin tahunan. Namun, setiap tahunnya selalu membawa tema berbeda yang diselaraskan dengan visi Mangkunegara X agar kebudayaan tetap relevan dengan zaman.
Selain Bedhaya Anglir Mendhung, acara tingalan jumenengan kaping 4 juga dimeriahkan oleh Royal Defile (parade prajurit) serta persembahan khusus dari seniman R.Ngt.T. Dr. Peni Candra Rini, menjadikan Tingalan Jumenengan kali ini sebagai wadah pelestarian budaya yang megah sekaligus bermakna.
