UNS
Rabu, 20 Mei 2026 19:07 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

JAKARTA (Soloaja.co) — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta resmi menjalin kerja sama strategis dengan PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk guna memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional. Kesepakatan ini dikukuhkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Penyelenggaraan Tridarma Perguruan Tinggi yang berlangsung di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (20/5).
Sinergi penting ini disaksikan langsung oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, serta dihadiri oleh jajaran pimpinan UNS dan manajemen puncak JAPFA.
Rektor UNS, Prof. Hartono, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah nyata dalam merespons rapor ketahanan pangan Indonesia yang masih memerlukan pembenahan di tingkat global.
“Jika kita melihat data *Global Food Security Index (GFSI)*, indeks ketahanan pangan Indonesia masih berada di peringkat ke-63 dari 113 negara. Ini menjadi *wake-up call* bagi kita semua untuk membangun fondasi pangan yang mandiri, adaptif, dan tidak bergantung pada impor,” ujar Prof. Hartono.
Ia menambahkan, di tengah ancaman perubahan iklim, ketidakpastian geopolitik, dan lonjakan populasi, perguruan tinggi tidak boleh sekadar menjadi menara gading. UNS berkomitmen menjadi kolaborator aktif yang menjembatani riset ilmiah laboratorium dengan kebutuhan riil industri agrifood serta masyarakat luas.
Melalui payung kemitraan ini, UNS dan JAPFA akan menelurkan berbagai program konkret. Mulai dari bidang pendidikan, riset bersama, pengabdian masyarakat, pengembangan SDM, hingga inovasi mutakhir di sektor agrifood dan kesehatan hewan.
Solusi Nyata Menghadapi Dampak Iklim
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, dalam arahannya menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor atau pentahelix menjadi kunci utama menghadapi tantangan global. Perubahan iklim global saat ini terbukti telah mengubah perilaku tanaman dan ternak, bahkan memicu kemunculan berbagai penyakit baru.
“Kolaborasi yang menghasilkan sinergi akan melahirkan percepatan. Tidak cukup hanya berkolaborasi, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi nyata yang berdampak,” tegas Prof. Rachmat.
Secara khusus, Menteri PPN mendorong UNS dan JAPFA untuk mengoptimalkan riset berbasis biodiversitas lokal. Salah satunya lewat pengembangan traditional tropical Indonesian medicine—memanfaatkan potensi herbal dan bahan alami asli Indonesia untuk inovasi kesehatan manusia maupun hewan.
Riset Industri untuk Pangan Berkelanjutan
Bak gayung bersambut, pihak JAPFA menyatakan bahwa riset dan teknologi adalah kompas utama dalam menciptakan sistem pangan yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan. Sebagai raksasa agrifood nasional yang telah berkiprah lebih dari lima dekade, JAPFA siap membuka pintu fasilitas risetnya untuk dikolaborasikan dengan insan akademis.
Melalui berbagai unit usahanya, JAPFA berkomitmen terus mematangkan teknologi di bidang *animal health*, termasuk memproduksi vaksin dan obat-obatan hewan guna menggenjot produktivitas peternakan domestik.
Kemitraan tripartit antara akademisi, industri, dan pemerintah ini diharapkan tidak sekadar menjadi dokumen di atas kertas. Implementasi program yang berkelanjutan diharapkan segera menggelinding demi melahirkan ketahanan—bahkan kedaulatan—pangan yang kokoh bagi Indonesia.
Bagikan