UMS Kukuhkan Dua Guru Besar Baru, Total Kini 72 Prof

Kamis, 30 April 2026 08:53 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001618769.jpg
Rektor UMS Prof Harun saat pelantikan Guru besar ke 71 dan 72 (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali memperkuat jajaran akademisinya dengan mengukuhkan dua guru besar baru pada Rabu (29/4). Prosesi pengukuhan yang berlangsung di Auditorium Moh. Djazman Kampus I UMS ini menambah daftar profesor aktif di universitas tersebut menjadi 72 orang.

Dua sosok yang dikukuhkan adalah:
* Prof. Kussudyarsana, S.E., M.Si., Ph.D. (Guru Besar Bidang Manajemen Strategi Kewirausahaan dan Tata Kelola Perusahaan Keluarga, FEB).
* Prof. Arum Pratiwi, S.Kp., M.Kes., Ph.D. (Guru Besar Bidang Ilmu Keperawatan Jiwa, FIK).

Apresiasi dari PP Muhammadiyah

Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., memberikan ucapan selamat sekaligus apresiasi tinggi. Ia menekankan bahwa penambahan ini merupakan suntikan energi bagi UMS sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) yang telah terakreditasi Unggul.

"Kami berharap dengan penambahan guru besar ini, kualitas Catur Dharma PTMA semakin meningkat. Para guru besar diharapkan tidak hanya mengaktualisasikan ilmu, tetapi juga berkiprah mencerdaskan bangsa dan membangun karakter generasi yang religius serta berakhlak mulia," ujar Haedar.

Ia juga berpesan agar para pakar ini mampu mencetak "Insan Kamil" yang tidak hanya mahir dalam teknologi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Dominasi Guru Besar UMS di Jawa Tengah

Data menarik diungkapkan oleh Dewan Pakar Majelis Diktilitbang Muhammadiyah, Prof. Dr. Chairil Anwar. Dari total 478 guru besar di lingkungan PTMA se-Indonesia, Jawa Tengah menyumbang 96 orang.

"Dari 96 guru besar PTMA di Jawa Tengah, sebanyak 63 orang atau sekitar 66% berasal dari UMS. Ini merupakan angka guru besar yang belum purna tugas," jelas Chairil.

Riset yang "Membumi"

Rektor UMS, **Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum.**, menegaskan bahwa jabatan guru besar bukanlah akhir dari perjalanan riset. Ia mendorong para profesor untuk melakukan riset yang berkelanjutan dan berdampak langsung pada masyarakat.

"Setelah menjadi guru besar, riset tidak boleh mandek. Jangan hanya berhenti pada *paper-based*, tetapi harus berkontribusi, mendekat, dan membumi kepada umat," pungkas Harun.