Tuntut Gedung Kesenian, Ratusan Seniman Solo Turun ke Jalan

Minggu, 26 Juli 2026 10:23 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001939064.jpg
Tokoh Kota Solo Dr BRM. Kusumo Putro SH, MH, memimpin aksi longmarch di CFD bersama seniman dan pegiat seni kota Solo menyuarakan pembangunan Gedung Kesenian. (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) - Aksi tuntutan dan keprihatinan atas keberadaan gedung kesenian di Kota Solo masih berlanjut. Minggu pagi, (26/07) Ratusan seniman dari berbagai bidang seni menggelar aksi long march di sepanjang area Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Solo. 

Aksi dimulai dari Neo Solo Grand Mall hingga Bundaran Gladak ini diikuti lebih dari 300 peserta yang terdiri atas seniman lukis, tari, patung, kriya kaca dan ukir, seni hiburan, reog, hingga musisi jalanan. Juga elemen mahasiswa dari berbagai universitas di Solo. 

Aksi moral ini dipimpin langsung oleh tokoh masyarakat Kota Solo, Dr BRM Kusumo Putro SH, MH. Langkah turun ke jalan ini diambil karena penyampaian aspirasi melalui media massa selama kurun waktu enam tahun terakhir tidak pernah membuahkan hasil nyata. 

Meskipun kepemimpinan di Balai Kota Solo telah berganti hingga empat kali dan anggota DPRD terus berganti, janji maupun solusi terkait ruang ekspresi bagi para pelaku seni tak kunjung terealisasi.

"Saya disambati banyak Seniman, bahwa Kota Solo tidak punya gedung kesenian yang representatif, merakyat dan lengkap bisa dimanfaatkan untuk seluruh aliran seni. Yang mencerminkan Solo kota budaya," Ungkap Kusumo Putro disela aksi longmarch.

Kusumo menegaskan bahwa aksi lapangan ini menjadi bukti sah kepada publik dan pemerintah bahwa kebutuhan gedung seni dan budaya di Solo sangat mendesak.

Menurutnya, Kota Solo tidak memiliki sumber daya lain yang ditonjolkan dalam Wisata selain seni dan budayanya. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemerintah kota, provinsi, hingga pusat terkesan tidak peduli terhadap nasib para pelaku seni dan keberlangsungan sanggar-sanggar tradisional yang ada.

"Solo punya gedung wayang orang sriwedari tapi fasilitas sudah tidak layak dan ada di tanah sengketa. Pemerintah harusnya mikir hal ini, bagaimana keberlanjutan seni budaya di kota ini. Bisa jadi 5 tahun kedepan tidak ada lagi Seniman di kota Solo karena tidak mendapat fasilitas lokasi dan event seni yang representatif," Tandas Kusumo.

Kondisi para seniman saat ini juga dinilai sangat prihatin dan memprihatinkan, layaknya pengemis di daerahnya sendiri. Musisi dan grup seni hebat yang lahir di Solo terpaksa tampil di tempat-tempat yang tidak representatif, seperti emperan toko di kawasan Ngarsopuro, atau Gatsu yang harus bubar setiap kali hujan turun.

"Ironis sekali Solo dengan slogan kota budaya tapi tidak punya gedung kesenian yang bisa menjadi kantong budaya 'jujugan' saat wisatawan atau orang luar Solo ingin menikmati seni di kota Solo." Ungkap Kusumo.

Diakui ada beberapa tempat yang biasa digunakan sebagai tempat berkesenian, tapi dinilai tidak representatif, seperti mematok sewa mahal, fasilitas tidak lengkap maupun tidak layak lagi.

"Sekali lagi kami tegaskan, setelah sekian lama saya tidak turun ke jalan dan saat ini beraksi kembali artinya ada hal krusial yang ingin kamu suarakan. Saya ingin menyelamatkan keberlanjutan Solo sebagai Kota Budaya. Jangan sampai pusat budaya berpindah ke daerah lain. Karena Solo tidak bisa menjual wisata lain selain budaya. Ini investasi seni budaya dan wisata untuk kota Solo," Tegas Kusumo.

Untuk lokasi gedung, Kusumo menyerahkan sepenuhnya pada pemerintah kota, propinsi hingga pusat. Yang pasti wilayah di tengah kota dengan kapasitas besar jumlah pengunjung menampung 2000 orang, lokasi parkir hingga akses mudah. Di misalkan bisa menggunakan lapangan sepak bola yang kurang representatif.

Melalui aksi ini, para seniman mendesak pemerintah segera membangun gedung kesenian yang layak demi penghormatan, penghargaan, serta pelestarian warisan budaya Solo.