UMKM
Minggu, 14 Juni 2026 06:12 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) – Ada sesuatu yang kontradiktif mencolok dari layar gawai generasi muda di Solo Raya hari ini. Di satu sisi, lini masa For Your Page (FYP) TikTok dipenuhi tren diet ekstrem yang mempromosikan tubuh sangat kurus, mulai dari water fasting atau tidak makan berhari-hari, hingga tindakan konyol memasukkan plastik ke mulut agar merasa kenyang. Semua menjanjikan penurunan berat badan instan tanpa olahraga.
Di sisi lain, realitas kesehatan masyarakat justru memprihatinkan. Data BPS Solo 2025 mencatat kasus diare mencapai 11.434 sepanjang 2024, meningkat 58 persen dari tahun sebelumnya. Kota ini juga mencatat 412 kasus baru HIV/AIDS pada 2025, menempatkan Solo di peringkat kedua tertinggi di Jawa Tengah. Paradoks ini menampar kita; di era banjir informasi, tubuh justru makin mudah disakiti secara sadar demi standar ideal versi algoritma.
Bagi Gen Z dan milenial, TikTok telah menjadi "buku panduan hidup" visual. Masalahnya, otak manusia mudah terpikat kisah dramatis yang menawarkan hasil cepat dan sederhana ketimbang penjelasan ilmiah. Prinsip diet sehat—cukup serat, protein, karbohidrat kompleks, dan aktivitas fisik rutin—sering kali dianggap membosankan dan tidak instagrammable.
Melihat fenomena ini, penulis sekaligus pegiat kesehatan masyarakat Solo Raya, Sukarna, M.Pd., M.M., menekankan bahwa Solo dan sekitarnya memiliki kekayaan tanaman herbal yang melimpah seperti temulawak, jahe, kunyit, hingga kelor. Potensi jamu tradisional ini seharusnya bisa diarahkan menjadi pendukung diet sehat yang rasional, bukan sebagai sihir penurun berat badan instan.
Menurut Sukarna, ada beberapa langkah konkret yang bisa dikembangkan. Pertama, memosisikan produk herbal sebagai "teman pola makan", bukan pengganti makanan utama. Kedua, mendorong formulasi berbasis riset dan regulasi lewat kolaborasi pelaku usaha lokal dengan ahli gizi agar klaim produk tidak berlebihan. Ketiga, menggalakkan narasi edukatif di media sosial yang menjelaskan pentingnya gizi seimbang.
Bayangkan jika FYP TikTok bergeser dari konten diet ekstrem menjadi gerakan anak muda Solo yang bangga mengonsumsi pangan lokal seperti sayur kelor, tempe, dan beras merah yang dipadukan dengan minuman herbal hangat.
Solo memiliki bahan baku, tradisi, dan komunitas kreatif untuk mewujudkan gaya hidup baru tersebut. Pilihan kini ada di tangan kita, dan mungkin, di jempol yang sebentar lagi akan menggulirkan layar FYP.
Bagikan