listrik
Selasa, 27 Januari 2026 13:00 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA - Kekhawatiran akan potensi resesi global akibat memanasnya konflik geopolitik mendorong para pemimpin dunia dan perumus kebijakan untuk menyiapkan langkah-langkah perlindungan ekonomi.
Dampak dari konflik berskala besar berisiko menekan perekonomian, mulai dari penurunan produksi, terganggunya rantai pasok, hingga melemahnya stabilitas keuangan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di tengah skenario terburuk seperti Perang Dunia III, Indonesia disebut masuk dalam daftar 10 negara paling aman, bersama Swiss, Australia, Selandia Baru, dan sejumlah negara lainnya. Jurnalis investigatif Annie Jacobsen juga menggambarkan betapa cepat dan masifnya kehancuran global yang dapat terjadi apabila perang nuklir benar-benar pecah.
BACA JUGA: 15 Hal yang Harus Disiapkan Jika Listrik Mati Total 7 Hari
Dalam diskusi di podcast The Diary of a CEO, ia memberikan contoh serangan rudal Rusia ke Amerika Serikat yang hanya memakan waktu 26 menit 40 detik. Perang ini diperkirakan akan melumpuhkan sektor pangan global karena bumi akan tertutup salju dalam waktu lama.
Di tengah ancaman tersebut, Indonesia dinilai sebagai salah satu tempat paling aman untuk berlindung, sejajar dengan negara-negara stabil lainnya seperti Finlandia dan Swiss. Sementara itu, banyak wilayah di dunia akan tertutup salju selama bertahun-tahun dan sektor pertanian berpotensi gagal total.
“Sebagian besar dunia, terutama wilayah lintang tengah, akan tertutup lapisan es. Daerah seperti Iowa dan Ukraina bisa bersalju hingga 10 tahun,” ujar Jacobsen, dalam The Economic Times, dikutip Senin, 26 Januari 2026.
“Ketika pertanian gagal, manusia akan mati kelaparan,” tambahnya. Jacobsen bahkan menyebut hanya dua negara yang memiliki peluang untuk bertahan hidup, yakni Selandia Baru dan Australia. Keduanya dinilai masih mampu menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Melansir dari United Nations Turkiye, Senin, 26 Januari 2026, resesi ekonomi merupakan fase di mana aktivitas ekonomi menurun secara signifikan selama beberapa bulan, ditandai oleh perlambatan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), penurunan investasi, dan meningkatnya pengangguran.
Dalam laporan Bank Dunia, sejarah menunjukkan bahwa resesi global pernah terjadi beberapa kali, termasuk saat pandemi global 2020 yang disebut sebagai salah satu resesi terdalam sejak Perang Dunia II.
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan menggarisbawahi pentingnya aturan keuangan yang kuat untuk rumah tangga dan bisnis, termasuk pengelolaan kas yang hati-hati serta perencanaan dana darurat.
Ketegangan geopolitik global seperti meningkatnya tarif perdagangan antara negara besar dan potensi eskalasi konflik dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, memperlemah permintaan global, serta menciptakan volatilitas pasar finansial.
Dalam konteks ancaman ekstrem seperti perang dunia berskala besar, gangguan terhadap sektor perdagangan dan investasi global dipastikan akan berdampak terhadap permintaan ekspor Indonesia, harga komoditas, serta aliran modal internasional.
Dampak resesi yang berisiko dialami masyarakat di antaranya adalah kenaikan harga kebutuhan pokok, pemutusan kerja, kenaikan harga pasokan energi sampai dengan naiknya angka kemiskinan. Oleh karena itu, masyarakat harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola keuangan.
Dikutip dari laman Kementerian Keuangan, berikut adalah langkah yang harus dilakukan saat menghadapi resesi:
Pemerintah perlu memastikan kebijakan fiskal yang fleksibel untuk merespon guncangan ekonomi, termasuk alokasi anggaran untuk stimulus, subsidi, dan insentif bagi industri terdampak. Selain itu, penerapan kebijakan moneter yang adaptif juga penting dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan likuiditas sistem keuangan.
Resesi global sering kali disertai dengan adanya gangguan rantai pasok. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia perlu memperkuat ketahanan pangan dan energi domestik, termasuk diversifikasi sumber pasokan serta mendukung produksi lokal agar ketergantungan impor tidak memperburuk tekanan ekonomi.
Menyiapkan dana darurat negara dan cadangan fiskal yang cukup tinggi akan membantu menghadapi penurunan pendapatan negara akibat kontraksi ekonomi global. Pada level rumah tangga dan bisnis, aturan mengelola keuangan yang konservatif serta memiliki dana darurat dapat membantu bertahan di masa sulit.
Mengurangi ketergantungan terhadap satu atau beberapa pasar ekspor atau komoditas dapat menjadi perlindungan penting. Dalam hal ini, investasi dalam sektor teknologi, manufaktur, dan jasa berkualitas tinggi akan membantu memperkuat struktur ekonomi jangka panjang.
Program perlindungan sosial seperti jaminan bagi pekerja, pelatihan kembali (reskilling), serta sistem asuransi tenaga kerja perlu diperkuat untuk mengurangi dampak sosial dari resesi. Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan bahwa skema perlindungan sosial tersebut tepat sasaran dan mampu menjangkau kelompok paling rentan, termasuk pekerja sektor informal dan pelaku UMKM.
Penguatan basis data sosial, perluasan cakupan bantuan, serta sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi krusial agar intervensi kebijakan dapat berjalan efektif di tengah tekanan ekonomi.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Maharani Dwi Puspita Sari pada 27 Jan 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 27 Jan 2026
Bagikan