isi solo
Sabtu, 11 April 2026 16:51 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) – Mahasiswa semester 4 Program Studi Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mengubah sudut-sudut kampus menjadi ruang pertunjukan yang dinamis. Pada Kamis (9/4), mereka melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Koreografi Ruang dengan memanfaatkan lokasi non-konvensional sebagai elemen utama karya mereka.
Berbeda dengan pertunjukan di panggung proscenium, koreografi ruang menuntut mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan arsitektur dan lingkungan. Dalam ujian ini, ruang bukan sekadar latar belakang, melainkan elemen yang mendikte dan membentuk dinamika gerakan tari.
Eksplorasi Ruang Non-Konvensional
Sejumlah lokasi unik di lingkungan kampus ISI Solo dipilih sebagai tempat ujian, di antaranya:
* Taman Depan Gedung DAM: Memanfaatkan elemen terbuka dan lanskap hijau.
* Jalur Disabilitas Teater Besar: Mengeksplorasi kontur dan fungsi fasilitas umum.
* Menara Air Gedung E: Tantangan struktur vertikal dan elemen arsitektur teknis.
Para mahasiswa menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa dengan menyatukan unsur alam dan bangunan ke dalam narasi gerak. Beberapa penari menampilkan gerakan ekspresif dan improvisasi yang merespons detail sudut bangunan, menciptakan pengalaman visual yang segar bagi penonton di sekitar kampus.
Tantangan Kreativitas
Rifal Aprianto, salah satu mahasiswa peserta ujian, mengungkapkan bahwa menaklukkan ruang adalah tantangan tersendiri bagi seorang koreografer.
"Sebenarnya tantangan terbesar dalam koreografi ruang itu bagaimana ruang bisa memengaruhi atau bahkan membentuk gerakan tari yang kami ciptakan," jelasnya.
Selain aspek teknis, ujian ini menjadi ajang eksplorasi estetika melalui permainan jarak (*distance*), level, dan volume tubuh. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu memperluas batasan seni tari dan menjadikan lingkungan sekitar sebagai medium ekspresi yang tanpa batas.
Bagikan