Suara Muda, Warna Budaya: Youth Festival #3 Jebres Angkat Tantangan Budaya Lokal di Era Digital

Minggu, 16 November 2025 15:49 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001044357.jpg
Tiga pembicara dalam Youth Fest #3 Karang taruna Jebres Solo (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Karang Taruna Kelurahan Jebres kembali sukses menyelenggarakan Youth Festival #3 2025 dengan mengangkat tema "Suara Muda, Warna Budaya". Acara tahunan ini hadir sebagai ruang kolaborasi dan ekspresi bagi generasi muda untuk menyuarakan gagasan, merayakan identitas budaya, dan mendorong kontribusi sosial.

Rangkaian Youth Fest #3 diawali dengan aksi sosial kolaboratif pada 9 November 2025, termasuk Ziarah Makam Pahlawan dan Forum Aspirasi Pemuda, sebagai bentuk kontribusi nyata pemuda terhadap lingkungan sosial.

SVARA TALKS: Budaya Lokal di Era Digital

Puncak acara digelar dalam bentuk diskusi interaktif bertajuk "SVARA TALKS" pada 15 November 2025 di Teater Terbuka Taman Cerdas Soekarno Hatta. Diskusi ini menghadirkan seniman dan tokoh inspiratif Solo, yaitu seniman vokal Sruti Respati, Social Entrepreneur Siswandi A, dan Hudha Abdul R (Duta Bahasa Jawa Tengah), dimoderatori oleh Afiq Putra P (Pemuda Pelopor Kota Surakarta). 

Acara juga dimeriahkan oleh penampilan dari She So Cute dan Renjamelo.
Lurah Jebres, Renyta Ina Wijaya, SE. MSi, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh pemerintah kelurahan.

"Pada era digital yang terus berkembang, budaya lokal tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga diperkaya melalui pemanfaatan teknologi. Kami percaya Youth Fest dapat menjadi penggerak bagi gerakan sosial budaya yang positif dan berkelanjutan di Kelurahan Jebres," ujar Ibu Reny.

Tantangan Bahasa dan Identitas Budaya

Para pembicara menyoroti tantangan besar bagi budaya lokal di tengah derasnya arus digital.
Sruti Respati menyoroti peran orang tua.

Menurutnya, dunia seni budaya sangat tersentuh teknologi, namun jika kecintaan terhadap kesenian lokal tidak didukung oleh kepekaan orang tua, maka anak akan lebih mudah mengonsumsi budaya asing.
Hudha Abdul R, Duta Bahasa Jawa Tengah, menggarisbawahi fenomena memprihatinkan terkait bahasa daerah.

"Posisinya (bahasa Jawa) dari tiga peringkat, mungkin bahasa asing sekarang sudah nomor satu, bahasa Indonesia di nomor dua, bahasa daerah mungkin sudah berada di posisi yang paling akhir," kata Hudha.

Ia menyatakan, banyak anak mengalami kesulitan mengerjakan soal Bahasa Jawa di sekolah dasar. Jika bahasa daerah tidak dilestarikan oleh generasi muda, otomatis bahasa tersebut akan punah. Ia menyerukan agar penggunaan bahasa ibu harus tetap dijaga.

Sementara itu, Siswandi A menyoroti dampak media sosial terhadap karakter sosial anak muda. Ia menyebut anak muda hari ini adalah generasi yang kebanjiran informasi dan tidak bisa membedakan mana yang riil dan mana yang tidak riil.

"Mereka di dunia digital sangat mudah seperti ini, terbawa ke dunianya yang mereka gampang seperti wanita misalkan," ujar Siswandi, menambahkan adanya pergeseran sikap dan rasa hormat yang terbiasa difasilitasi kemudahan di dunia digital.

Youth Fest #3 berhasil melibatkan lintas komunitas dan lintas generasi, termasuk perwakilan pemuda dari RW 36, Karang Taruna Kecamatan dan Kota, serta organisasi kepemudaan, yang menjadi kekuatan utama dalam sinergi sosial dan budaya di Surakarta.