Sosialisasi Riset Strategis, UMS Hadirkan Kepala BRIN

Minggu, 01 Maret 2026 14:15 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001413088.jpg
BRIN melakukan sosialisasi riset dan penelitian di UMS Surakarta (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mempertegas posisinya sebagai pionir kampus penelitian swasta dengan menyelenggarakan Sosialisasi Program Riset Strategis BRIN 2026–2030. Acara yang berlangsung di Gedung Induk Siti Walidah, Minggu (1/3/2026) ini menghadirkan langsung Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si.

Dalam paparannya, Prof. Arif Satria menekankan bahwa riset di perguruan tinggi tidak boleh hanya berakhir di rak perpustakaan atau sekadar menjadi syarat publikasi. Ia mendorong para dosen dan mahasiswa untuk menyelaraskan skripsi, tesis, dan disertasi dengan roadmap riset nasional agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri.

“Riset harus menjadi jawaban atas persoalan bangsa. Kemajuan kita ditentukan oleh inovasi dan seberapa banyak peneliti yang terlibat dalam memecahkan masalah riil,” ungkap Prof. Arif di hadapan sivitas akademika UMS.

Membangun Ekosistem Riset Berstandar Global

Kepala BRIN mengapresiasi konsistensi UMS dalam membangun ekosistem research university. Ia mengutip teori Endogenous Growth dari peraih Nobel Paul Romer, yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi sebuah negara sangat bergantung pada investasi di bidang Research and Development (R&D) serta kualitas SDM.

Prof. Arif juga menyoroti tantangan besar Indonesia di kawasan ASEAN, di mana Global Innovation Index (GII) Indonesia masih tertinggal. Ia menekankan perlunya perubahan pola pikir masyarakat agar lebih berbasis sains.

“Ketika fenomena unik di masyarakat masih sering dikaitkan dengan hal supranatural ketimbang penjelasan ilmiah, di situlah tantangan dunia pendidikan kita. Sains harus menjadi rujukan utama,” tegasnya.

Belajar dari Jerman dan Silicon Valley
Indonesia, menurut Prof. Arif, perlu mengadopsi model institusi riset dunia. Ia mencontohkan Jerman dengan Max Planck Society untuk riset dasar dan Fraunhofer Society untuk komersialisasi. Ia juga menyinggung kesuksesan Silicon Valley yang lahir dari kolaborasi erat antara universitas seperti Stanford dengan raksasa teknologi seperti Google dan Tesla.

Melalui Program Riset Strategis 2026–2030, BRIN mendorong strategi leapfrogging (lompatan teknologi) agar Indonesia bertransformasi dari pasar menjadi produsen inovasi. BRIN juga membuka peluang pendanaan besar bagi asisten peneliti, mahasiswa pascasarjana, hingga program post-doctoral.

"Tadarus Riset" dan Kemandirian Bangsa
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyambut hangat arahan tersebut. Ia memperkenalkan istilah “Tadarus Riset” sebagai semangat kolektif untuk membudayakan penelitian yang berkelanjutan di lingkungan kampus.

“Kami mendorong lahirnya riset-riset unggulan yang fokus pada pengurangan impor. Fokus utama kita adalah penguatan kebutuhan pokok nasional, mulai dari pangan, energi, hingga kemandirian industri farmasi,” pungkas Prof. Harun.

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi UMS untuk melakukan konsolidasi riset dan hilirisasi inovasi yang mampu bersaing di kancah internasional.