borobudur
Sabtu, 23 Mei 2026 21:14 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) — Kota Surakarta kembali menegaskan jati dirinya sebagai kota yang inklusif dan penuh toleransi. Pada Sabtu malam (23/5/2026), Wali Kota Surakarta Respati Ardi bersama ribuan umat Buddha dan masyarakat Solo mengikuti Kirab Waisak yang melintasi jalan protokol dari Loji Gandrung menuju Balai Kota Surakarta.
Kirab budaya dan agama ini terasa sangat istimewa karena diikuti oleh rombongan bhikkhu thudong dari berbagai negara Asia Tenggara. Para bhikkhu yang tengah menjalani ritual berjalan kaki menuju Candi Borobudur tersebut berjalan beriringan dengan umat Buddha di bawah pengawalan ketat dan sambutan hangat warga.
Sesampainya di Balai Kota Surakarta, rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi keagamaan yang meliputi pembacaan puja parita, kata, serta ritual memandikan rupang Bodhisattva Siddhartha. Seluruh prosesi berlangsung dengan sangat khidmat, tenang, dan penuh kedamaian di halaman pusat pemerintahan kota tersebut.
Kerinduan Masyarakat yang Terjawab
Ditemui usai kegiatan, Wali Kota Surakarta Respati Ardi tidak dapat menyembunyikan rasa bangga dan syukurnya. Kehadiran para bhikkhu thudong di Kota Bengawan ini merupakan momentum langka yang sudah lama dinantikan oleh masyarakat Solo.
“Kami sangat merasa bangga sekali hari ini. Sudah lama diharapkan akhirnya bhikkhu thudong bisa mampir dan bersinggah di Kota Solo serta mengikuti kirab,” ujar Respati dengan penuh apresiasi.
Ia juga memberikan pujian tinggi kepada warga masyarakat Surakarta yang menunjukkan antusiasme luar biasa di sepanjang rute kirab. Sikap ramah dan hormat yang ditunjukkan warga dinilai menjadi modal sosial yang kuat dalam menjaga iklim kondusif di Solo. Selain warga, apresiasi juga diberikan kepada seluruh petugas pengamanan yang sukses menjaga acara tetap tertib.
“Saya ucapkan terima kasih kepada warga masyarakat Surakarta yang antusiasmenya luar biasa, dan juga kepada para petugas yang hari ini bertugas sehingga acara berjalan dengan baik dan lancar,” katanya.
Simbol Kota Inklusif
Bagi Respati, momentum Kirab Waisak bersama bhikkhu *thudong* ini memiliki makna mendalam bagi eksistensi Kota Surakarta di kancah nasional maupun internasional. Acara ini menjadi bukti nyata bahwa Solo adalah rumah yang aman dan terbuka bagi semua golongan.
“Maknanya untuk Kota Solo jelas, bahwa Kota Solo terbuka bagi siapa pun, bagi kepercayaan dan agama apa pun untuk melaksanakan upacara agama maupun adat. Kami mendukung penuh pelaksanaannya di Kota Surakarta dengan penuh khidmat, benar, dan penuh kedamaian,” jelasnya.
Melihat dampak positif dan berkah spiritual yang dibawa oleh rombongan ini, Respati berharap rute perjalanan thudong pada tahun-tahun berikutnya bisa kembali memasukkan Kota Solo sebagai titik persinggahan utama.
“Ini berkah yang luar biasa karena akhirnya bisa ke Solo. Apabila tahun depan ada kesempatan lagi, tentunya kami sangat berharap kegiatan ini bisa kembali dilaksanakan di Kota Surakarta,” pungkasnya.
Bagikan
wisata
setahun yang lalu