Muhammadiyah
Jumat, 20 Maret 2026 13:12 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) – Lantunan takbir menggema memecah keheningan pagi di pusat Kota Solo saat ribuan umat Islam memadati Lapangan Kotta Barat untuk menunaikan Salat Idulfitri 1447 H, Jumat (20/3/2026). Ibadah yang dimulai sejak pukul 06.00 WIB ini berlangsung khidmat dengan kehadiran sekitar 1.200 jemaah yang memenuhi 12 shaf barisan yang disiapkan panitia.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib dalam kesempatan tersebut adalah Prof. Andri Nirwana, Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Tantangan Pasca ramadan: Menjaga Konsistensi
Dalam khotbahnya, Prof. Andri menekankan bahwa tantangan sesungguhnya bagi umat Muslim baru dimulai setelah Ramadan usai. Ia menyoroti fenomena penurunan semangat ibadah yang kerap terjadi ketika rutinitas Ramadan berakhir.
"Pada bulan Ramadan, ibadah terasa lebih ringan karena kondisi spiritual yang terkondisikan. Namun, tantangan nyata adalah bagaimana mempertahankan konsistensi tersebut di bulan-bulan berikutnya saat setan tidak lagi dibelenggu," ujarnya di hadapan jemaah.
Ia menawarkan solusi konkret melalui peran keluarga sebagai unit terkecil dalam membangun kebiasaan. Menurutnya, keluarga harus proaktif menyusun jadwal rutin seperti salat berjamaah, puasa sunah, dan tilawah Al-Qur'an agar ritme ibadah tetap terjaga di tengah kesibukan duniawi.
Menyikapi Perbedaan dengan Basis Ilmiah
Selain pesan spiritual, Prof. Andri juga memberikan pencerahan terkait adanya perbedaan penetapan hari raya di tengah masyarakat. Ia mengajak umat untuk menyikapi hal tersebut dengan penuh kedewasaan dan pemahaman ilmu pengetahuan.
Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah saat ini telah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang berbasis perhitungan ilmiah akurat dan dapat diprediksi jauh ke depan.
"Pada masa Rasulullah, rukyat digunakan karena keterbatasan ilmu pengetahuan saat itu. Kini, astronomi sudah sangat berkembang sehingga penentuan kalender bisa dilakukan secara presisi. Perbedaan metode ini tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, melainkan bukti kekayaan ijtihad dalam Islam," tegasnya.
Momentum Mempererat Ukhuwah
Pelaksanaan Salat Id di Lapangan Kotta Barat ini diakhiri dengan suasana penuh kebersamaan. Jemaah saling bersalam-salaman mempererat tali persaudaraan setelah sebulan penuh menjalankan kewajiban puasa.
Ketertiban dan kekhusyukan yang tercipta diharapkan menjadi cerminan kepribadian umat yang lebih baik, toleran, dan berdaya bagi bangsa setelah digembleng di madrasah Ramadan.
Bagikan