Sering Nyeri Leher Punggung? Waspada Sinyal Saraf Kejepit

Jumat, 30 Januari 2026 10:43 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001301500.jpg
Dr Faris ahli syaraf RS UNS (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Merasa nyeri tajam yang menjalar, kesemutan, hingga mati rasa di area leher atau punggung bawah? Hati-hati, itu bukan sekadar pegal biasa karena kelelahan. Bisa jadi, tubuh Anda sedang mengirimkan sinyal "SOS" adanya kondisi saraf kejepit atau dalam bahasa medis disebut Radikulopati.

Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Faris Khairuddin Syah, Sp.N., menjelaskan bahwa saraf kejepit ibarat kabel listrik yang terhimpit benda berat.

"Aliran listrik atau sinyal sarafnya menjadi kacau, itulah yang menimbulkan sensasi nyeri hingga kesemutan," ujar dr. Faris (29/1/2026).

Mengapa Saraf Bisa Terjepit?

Struktur tulang belakang manusia terdiri dari 33 ruas tulang yang di antaranya terdapat bantalan empuk bernama cakram intervertebralis. Saraf kejepit terjadi ketika celah saraf menyempit atau ada jaringan (tulang, otot, atau cakram) yang menekan akar saraf tersebut.

Ada beberapa faktor pemicu utama yang perlu diwaspadai:
* Faktor Usia: Proses degeneratif dan tumbuhnya taji tulang (bone spurs).
* Cedera: Trauma akibat kecelakaan atau jatuh.
* Gaya Hidup: Postur tubuh yang salah, obesitas, hingga aktivitas fisik yang berlebihan (sering membungkuk).
* Kondisi Medis: Herniasi diskus (cakram menonjol), artritis, hingga Diabetes Mellitus.

Jangan Diabaikan! Kenali Gejala Khasnya

Gejala saraf kejepit biasanya memburuk saat tubuh melakukan gerakan tertentu. dr. Faris merinci beberapa tanda utamanya:
* Nyeri Tajam: Sensasi berdenyut atau panas menyengat.
* Mati Rasa: Kebas pada area yang sarafnya tertekan.
* Kesemutan: Mirip sensasi kaki "tertidur" setelah duduk bersila lama.
* Kelemahan Otot: Menurunnya kekuatan otot dan refleks tubuh.

Pilihan Terapi: Apakah Harus Operasi?

Kabar baiknya, mayoritas kasus saraf kejepit bisa ditangani tanpa operasi melalui metode konservatif. dr. Faris juga meluruskan mitos bahwa penderita harus istirahat total (bed rest) di tempat tidur.
"Bed rest terlalu lama justru menghambat pemulihan. Aktivitas dan latihan fisik ringan sangat disarankan," jelasnya.

Berikut adalah langkah penanganan yang bisa dilakukan:
* Terapi Suhu: Kompres dingin (sebelum 3 hari nyeri muncul) untuk radang, dilanjutkan kompres hangat untuk relaksasi otot.
* Medikamentosa: Pemberian obat-obatan anti-nyeri dan perelaksasi otot sesuai resep dokter.
* Fisioterapi: Program latihan khusus untuk memperkuat otot penyangga tulang belakang.
* Suntikan Steroid: Dilakukan jika terapi obat-obatan belum memberikan hasil maksimal.

Kapan Harus Operasi?

Tindakan pembedahan, seperti radiofrekuensi atau dekompresi, baru akan dipertimbangkan jika nyeri tidak kunjung membaik setelah berbulan-bulan, atau jika sudah muncul gejala berat seperti kelemahan anggota gerak serta gangguan buang air kecil (BAK) dan besar (BAB).

 

Faris mengingatkan agar masyarakat segera mengonsultasikan keluhan saraf ke fasilitas medis seperti Poli Saraf RS UNS untuk mendapatkan diagnosis akurat melalui pemeriksaan fisik, MRI, atau CT scan.

"Jangan biarkan saraf kejepit membatasi hidup Anda. Dengan penanganan yang tepat, pemulihan adalah hal yang sangat mungkin," pungkasnya.