UNS
Rabu, 23 September 2026 21:48 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia menggelontorkan anggaran sebesar Rp 150 miliar untuk merevitalisasi 13 titik kawasan di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Proyek penataan berskala besar ini merupakan tindak lanjut dari perintah Presiden Prabowo Subianto guna menyelamatkan serta melestarikan cagar budaya nasional.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan, penataan fisik 13 titik prioritas tersebut ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026. Proyek ini dinilai sangat mendesak mengingat pemugaran menyeluruh di kawasan Keraton Solo terakhir kali dilakukan sekitar 40 tahun silam.
"Ini merupakan perintah dari Bapak Presiden untuk melakukan revitalisasi keraton, istana, museum, dan berbagai aset budaya lain. Nilainya sekitar Rp 150 miliar untuk 13 titik dan kita harapkan selesai akhir tahun ini," kata Fadli Zon saat meninjau lokasi di Keraton Solo, Rabu (23/9/2026).
Fadli menjelaskan, cakupan perbaikan menyasar berbagai area vital, di antaranya Pagelaran, Sitinggil, Museum Keraton, Kasentanan, Panti Bidono, Keraton Kilen, Keputren, Ndalem Ageng, Kawasan Kamandungan, Bangsal Pradonggo, Sasana Handrawina, Panggung Songgo Buwono, hingga Sinorenggo.
Selain itu, revitalisasi juga menyasar kantoran dalem yang diproyeksikan sebagai kantor KGPH Panembahan Agung Tedjowulan sesuai SK Menteri Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2026.
Menurut Fadli, pembiayaan revitalisasi tidak sepenuhnya bergantung pada APBN. Pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta melalui skema Public Private Partnership (PPP) serta dukungan korporasi, sebagaimana penataan Panggung Sangabuwana yang telah berjalan sebelumnya. Ke depan, tata kelola kawasan juga akan disiapkan secara profesional bersama Pemkot Solo dan pihak internal keraton.
"Kita berharap revitalisasi ini bukan hanya berhenti di fisik yang tangible, tetapi juga intangible seperti nilai, tradisi, dan warisan budaya tak benda. Keraton Solo kita dorong menjadi destinasi penting Nusantara, baik wisata budaya, sejarah, religi, hingga kuliner," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng), mengapresiasi langkah cepat pemerintah pusat. Ia mengungkapkan bahwa kondisi bangunan di 13 titik prioritas tersebut sudah sangat memprihatinkan, terutama pada bagian atap yang mengalami kerusakan parah dan lapuk.
"Kami memberikan penghargaan setinggi-tingginya untuk Pemerintah Indonesia dan Bapak Presiden yang telah memerintahkan Pak Menteri Kebudayaan, karena keadaannya memang sudah sangat memprihatinkan. Yang paling parah di bagian dalam adalah atap, banyak yang sudah jebol seperti di Bangsal Pradonggo, Langen Katong tempat gamelan Sekaten, hingga Kompleks Pakubuwanan," ungkap Gusti Moeng.
Ia menambahkan, pihaknya telah mendokumentasikan seluruh titik kerusakan sebelum musim hujan tiba guna mempermudah proses pemugaran.
Pembenahan tahun ini dinilai sangat bersejarah karena mencakup kawasan Keputren, Panti Lura, hingga Panti Rukmi yang belum pernah tersentuh pemugaran sejak tahun 1982. Nantinya, seluruh area yang selesai direvitalisasi akan difungsikan kembali sesuai dengan aturan adat istana.
Bagikan