Program #SungaiLestari Diluncurkan, Solo Jadi Pilot Project Nasional

Jumat, 10 Juli 2026 11:46 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001875305.jpg
Pemkot Surakarta bersama United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia resmi meluncurkan soft-launching Program #SungaiLestari di Pendopo Kecamatan Laweyan, Jumat (10/7). (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta bersama United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia resmi meluncurkan soft-launching Program #SungaiLestari di Pendopo Kecamatan Laweyan, Jumat (10/7). 

Gerakan kolaboratif ini menyasar pengurangan sampah plastik di sungai dan menjadikannya sebagai percontohan nasional #SungaiLestari atau Clean River. 

Kota Solo terpilih menjadi satu dari lima wilayah prioritas di Indonesia selain Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, dan Bali. Program yang direncanakan berjalan hingga tahun 2027 ini mengusung pendekatan performance-based, di mana kinerja mitra lokal akan terus dievaluasi secara berkala.

Nasional Project Koordinator Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Ahmad Bahri Rambe, menyampaikan bahwa program ini sengaja dirancang secara komprehensif. Upaya pencegahan dilakukan dari hulu agar sampah dari daratan tidak bocor ke sungai yang bermuara ke laut.

"Harapan kita, lima lokasi ini bisa menjadi contoh penerapan pengelolaan sampah yang lebih baik bagi 514 kota lain di Indonesia. Kami bermitra dengan organisasi sipil lokal, seperti VEL dan BINTARI. Sampah yang terkumpul akan dipilah dan dikelola agar seminimal mungkin dibuang ke TPA," jelas Ahmad Bahri.

Sasar Dua Kecamatan, Targetkan 1.000 Ton Sampah

Di tingkat lokal, program ini akan memprioritaskan penanganan kebersihan di aliran Kali Permulung. Dua wilayah yang menjadi fokus utama intervensi yaitu Kecamatan Laweyan pada sisi hulu dan Kecamatan Serengan di bagian hilir.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta, Herwin Tri Nugroho Adi, menjelaskan bahwa skema penanganan dalam proyek percontohan ini akan langsung mengolah sampah sungai di tempat tanpa harus mengirimkannya lagi ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

"Fokusnya ada di Kali Permulung dengan target sampah yang ditangani mencapai 1.000 ton di dua area tersebut. Kami juga berencana memasang trash boom (sekat penahan sampah) untuk mengukur volume sampah yang dihasilkan secara berkala," tutur Herwin.

Melalui data riil dari trash boom, tim gabungan akan memberikan sosialisasi dan edukasi yang lebih terarah kepada masyarakat. Herwin berharap program ini mampu mengubah perilaku warga agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limbah domestik.

"Jika kebersihan air sungai terwujud, dampaknya tentu sangat besar pada perbaikan kesehatan masyarakat sekitar, bahkan termasuk membantu menekan angka stunting melalui penyediaan lingkungan yang bersih dan higienis," pungkasnya.