DKV FSDR ISI Surakarta
Sabtu, 31 Oktober 2026 14:06 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Kusumawati

PADANG (Soloaja.co) – Karya akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta turut mewarnai perhelatan Pameran Internasional Seni Rupa dan Desain bertajuk "Convergence" yang digelar Universitas Negeri Padang (UNP).
Pameran yang berlangsung pada 27-30 Oktober 2026 di Galeri FBS UNP, Gedung Teater Tertutup Mursal Esten, Padang, Sumatera Barat ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 63 tahun Departemen Seni Rupa dan 72 tahun UNP.
Pameran internasional yang digawangi Departemen Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNP bersama kurator Rifki Aswan ini mempertemukan 83 seniman dan desainer dari delapan negara. Perhelatan ini menampilkan karya dari 71 seniman Indonesia, 4 seniman Malaysia, 2 seniman China, 2 seniman Nepal, serta masing-masing 1 seniman dari Skotlandia, Korea Selatan, Rusia, dan Slovakia.
Melalui seleksi ketat yang melibatkan seniman undangan, dosen, mahasiswa, hingga seniman muda hasil open call, pameran ini merespons perkembangan seni kontemporer di era yang kian cair. Batas antara disiplin ilmu, budaya lokal dan global, tradisi dan modernitas, hingga realitas natural dan artifisial disajikan secara kolaboratif sebagai ruang dialog lintas bangsa dan lintas generasi.
Salah satu capaian membanggakan datang dari Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) FSRD ISI Surakarta, Asmoro Nurhadi Panindias. Karya ciptaannya yang bertajuk "Lelaku" berhasil lolos kurasi dan dipamerkan dalam ajang internasional tersebut.
Di tengah keberagaman perspektif lintas negara, Asmoro menghadirkan karya "Lelaku" untuk menjawab pertanyaan kuratorial utama pameran: ketika kemampuan manusia terus diperluas oleh teknologi, bagian mana dari kemanusiaan yang harus dipertahankan?
Berangkat dari kearifan budaya Jawa melalui pitutur ngelmu iku kalakone kanthi laku, karya ini menegaskan bahwa kesediaan menanggung beban dan mewujudkan gagasan secara nyata melalui tubuh adalah inti kemanusiaan yang tidak boleh hilang di tengah transformasi era transhuman.
"Ketika teknologi terus memperluas kapasitas manusia hingga mengaburkan batas antara yang natural dan artifisial, bagian paling esensial dari kemanusiaan yang harus kita jaga adalah lelaku. Sebagaimana falsafah Jawa ngelmu iku kalakone kanthi laku, gagasan dan pengetahuan menuntut keterlibatan tubuh secara utuh untuk diwujudkan dan ditanggung dalam laku hidup nyata," ungkap Asmoro Nurhadi Panindias.
Secara visual, karya "Lelaku" menampilkan figur pekerja yang mengadaptasi postur pedagang kaki lima tradisional yang sedang memikul beban. Namun, isi pikulan tersebut telah bertransformasi: satu sisi memuat simbol gaya hidup kekinian, sedangkan sisi lainnya memuat elemen budaya skena kontemporer.
Representasi ini menyiratkan bahwa meskipun isi kerja manusia modern telah beralih ke ranah kreatif-digital, tubuh manusia tetaplah entitas biologis yang menanggung beban kerja. Visual karya ini makin kuat dengan sentuhan tipografi Aksara Jawa "Lelaku" yang dieksekusi menggunakan pendekatan bergaya risograph bertekstur analog.
Hadirnya perspektif lokal Jawa di panggung global ini turut memperkaya spektrum kuratorial pameran. Keberagaman bentuk, karakter, dan latar belakang konsep para peserta menjadi edukasi penting bagi publik untuk memahami perbedaan bahasa ekspresi, nilai sejarah, budaya, hingga isu kepedulian lingkungan hidup dari berbagai negara.
Perhelatan berskala internasional ini juga diharapkan menjadi pintu awal untuk membangun kerja sama institusional serta pameran bersama yang berkelanjutan di masa depan. Keikutsertaan ISI Surakarta dalam ajang ini sekaligus menegaskan komitmen Prodi DKV ISI Surakarta untuk terus mengintegrasikan nilai kearifan budaya Nusantara ke dalam karya desain komunikasi visual serta memperluas jejaring kerja sama akademik di kancah nasional maupun internasional.
Bagikan